Zona Merah Berkurang, Tracing Harus Diperkuat

07 Agustus 2020 10:13 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Petugas mengambil sampel darah warga yang mengikuti Mobile Rapid Test (tes bergerak) yang diadakan Relawan Indonesia Bersatu Lawan Covid-19 di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2020.  Tes cepat secara massal ini diadakan untuk mendeteksi paparan virus corona di masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi zona merah COVID-19. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengatakan zonasi risiko tinggi berkurang menjadi 33 kabupaten/kota  dari sebelumnya 44 Kab/kota.

Kini, tercatat ada 33 kabupaten/kota tergolong risiko tinggi, 194 kabupaten/kota risiko rendah, 163 kabupaten/kota, tidak ada kasus baru sebanyak 51 kabupaten/kota, dan 35 kabupaten/kota tidak terdampak kasus.

“Untuk zonasi risiko tinggi pada minggu lalu ada 44 kabupaten/kota, turun menjadi 33, sedangkan risiko sedang naik dari 160 menjadi 194. Pada risiko rendah sebelumnya dari 178 turun menjadi 163,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito di Istana Kepresidenan, Provinsi DKI Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2020.

Wiku menegaskan, meskipun zona risiko tinggi telah berkurang, seluruh elemen mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat tetap disiplin menjaga protokol kesehatan.

Dia juga meminta pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan Satgas COVID-19 daerah dan pusat guna meningkatkan akurasi pendataan zonasi risiko.

Sanksikan Akurasi

Pasalnya, beberapa pihak menyangsikan akurasi kemampuan penelusuran kontak (contact tracing) yang menjadi modal pemetaan. Sebab, ada daerah yang terindikasi melambatkan tracingnya guna mengincar status risiko rendah atau zona hijau.

Kesengajaan tidak melakukan pengujian COVID-19 ini bertujuan agar daerah kembali dapat melaksanakan aktivitas bisnis dan sosialnya secara normal. Sehingga, fasilitas publik di daerah tersebut dapat kembali dibuka untuk umum.

Namun, Wakil Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Centre (MCCC) Corona Rintawan mengatakan bahwa pemberian status riiko rendah tidak hanya berdasarkan pada satu indikator yaitu jumlah kasus.

Setidaknya, ada 15 indikator lain yang turut menentukan zonasi suatu wilayah. Untuk itu, dia mengingatkan agar kejujuran masyarakat dan pemerintah daerah menjadi penting untuk menghentikan laju penularan pandemi COVID-19.

Per 6 Agustus 2020, Satgas COVID-19 mencatat ada 1.756 kasus pasien yang sembuh, dan yang meninggal ada tambahan 69 kasus. Secara persentasenya, kesembuhan sebesar 63,7% dari pasien terkonfirmasi. Sementara yang meninggal ada 4,6% dari yang terkonfirmasi.

Berita Terkait