Wow! Perusahaan Raup Duit di Bursa Efek Hingga November 2020 Tembus Rp100,1 Triliun

November 28, 2020, 09:04 AM UTC

Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto

Awak media mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 – 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total penawaran umum yang dilakukan oleh perusahaan tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 24 November 2020 mencapai Rp100,1 triliun. Nilai itu didapat dari hasil 149 penawaran umum.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo mengungkapkan, sebagian dari total aksi penawaran ini dilakukan oleh 44 emiten yang baru melantai di BEI.

Lebih rinci, 40 aksi penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Rp4,54 triliun, 14 penawaran umum terbatas atau right issue Rp16,93 triliun, dan 94 penawaran surat utang Rp78,15 triliun.

Emiten sektor keuangan mendominasi nilai penawaran umum dengan porsi 47,72%. Disusul emiten sektor infrastruktur dan transportasi 20,9% serta pertambangan 8,73%. Emiten properti 4,15%, pertanian 3,96%, jasa dan investasi 3,52%, barang konsumsi 1,57%, serta aneka industri 0,05%.

Jumlah itu, sambung Anto, akan semakin bertambah mengingat kini masih ada 58 emiten yang antre melakukan penawaran umum. “Dengan total indikasi penawaran sebesar Rp21,76 triliun,” ungkap Anto dalam rilis resmi, dikutip Sabtu, 28 November 2020.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gode Nyoman Yetna mengungkapkan, saat ini masih ada 20 perusahaan yang bakal melakukan IPO hingga akhir tahun. Rinciannya, enam perusahaan di sektor jasa dan investasi, tiga perusahaan sektor properti dan dua dari sektor konsumer.

Lalu, dua perusahaan dari sektor aneka industri, dua perusahaan agribisnis, serta dua perusahaan infrastruktur dan infrastruktur. Kemudian dua perusahaan sektor keuangan dan satu perusahaan sektor pertambangan.

“Adapun 20 perusahaan di atas masih menjalani proses evaluasi penawaran umum,” pungkas Nyoman. (SKO)