Wow! 70 Persen Pengiriman J&T Express Berasal dari e-Commerce

21 September 2021 18:47 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Warga mengakses salah satu platform e-commerce untuk berbelanja secara daring melalui gawai dalam rangka Hari Belanja Online Nasional atau ‘Harbolnas 11.11’ di Tangerang, Banten, Rabu, 11 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Perusahaan rintisan (start up) di bidang ekspedisi, J&T Express mengakui pertumbuhan bisnis e-commerce ikut mendongkrak volume pengiriman perusahaan.

CEO J&T Express, Robin Lo menyatakan, saat ini pengiriman J&T Express pun didominasi dari transaksi e-commerce hingga mencapai 70%. 

“Dikarenakan tren market saat ini lebih banyak berbelanja secara online dan menggunakan platform marketplace tentunya mitra e-commerce merupakan partner yang dapat menunjang kebutuhan satu sama lain,” kata Robin pada TrenAsia.com, Selasa 21 September 2021.

Berkah serupa juga datang dari COVID-19, sejak pandemi, start up berstatus unicorn ini mencatatkan trafik pengiriman barang mencapai 2,5 juta paket per hari. Pada semester I-2021, pengiriman juga meningkat 25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Adapun layanan pengiriman paling unggul adalah layanan reguler atau EZ. Sementara lainnya seperti J&T ECO dan J&T Super merupakan layanan baru sehingga penetrasinya belum setinggi dengan layanan reguler.

Lantaran permintaan jasa logistik terus meningkat, membuat J&T Group melebarkan sayap bisnisnya dengan meluncurkan pengembangan perusahaan baru yaitu J&T Cargo. Robin mengatakan kapasitas pesawat kargo bisa muat hingga 15 ton. 

Ia menyatakan, layanan itu akan fokus pada pengiriman paket dengan ukuran dan volume besar, di mana J&T Cargo akan menjangkau pengiriman ke semua wilayah di Indonesia.

Meski begitu baru mengandalkan satu layanan utama, market share J&T Express sudah mencapai 30% sampai 40% terhadap industri.

Besarnya potensi industri ekspedisi membuat banyak start up baru bermunculan. Bahkan, konglomerasi besar juga mulai merambah ke industri ini. 

Melihat fenomena ini, Robin mengaku tak risau dengan banyaknya pesaing yang bermunculan. “Kami melihat hal ini cukup wajar terjadi karena di mana ada demand tentunya ada market yang bisa digarap dan dikembangkan.”

Apalagi, banyak pihak yang memprediksi aktivitas berbelanja online tak hanya akan berlangsung saat pandemi. Melainkan bertahan dan menjaid budaya masyarakat di masa depan.

“Transaksi online membuat kebutuhan akan logistik meningkat sehingga banyak yang melihat potensi dalam jasa pengiriman,” tambahnya.

Dengan kian besarnya bisnis J&T Express saat ini, Robin mengatakan pengiriman barang sudah mencakup seluruh wilayan Indonesia. Akan tetapi, pengiriman asal dan tujuan saat ini masih didominasi oleh wilayah Pulau Jawa. 

Sebagai informasi J&T Express dikabarkan bakal mengalihkan pencatatan sahamnya (listing) di Bursa Efek Hong Kong. Sebelumnya, J&T Express berencana listing di Bursa Efek Amerika Serikat (AS).

J&T Express akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun depan. Dari IPO tersebut, J&T Express disebut-sebut bisa menghimpun dana sekitar US$1 miliar.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Robin belum berkenan untuk memberikan informasi terkini perihal isu yang diberitakan oleh Bloomberg beberapa waktu lalu.

“Mohon maaf untuk hal ini kami belum dapat memberikan tanggapan,” ujar Robin.

Berita Terkait