Window Dressing Tiba, Saham-Saham Sektor Finansial, Infrastruktur, dan Konsumer Ini Bakal Ngegas

JAKARTA – Tinggal beberapa hari lagi, pasar modal seluruh dunia bakal memasuki masa window dressing. Masa ini biasanya dihiasi oleh kenaikan harga saham secara signfikan mengingat banyaknya pelaku pasar, khususnya manajer investasi yang mulai berbondong-bondong memperbaiki portofolionya.

Secara harfiah, window dressing adalah momen saat banyak emiten atau perusahaan mulai beramai-ramai melakukan aksi korporasi demi mempercantik laporan keuangannya sebelum akhir tahun. Biasanya, dalam waktu-waktu ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak menguat dan berada pada performa terbaiknya.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta memprediksi, dalam masa window dressing ini IHSG akan naik tipis ke level 5.800. Namun pergerakan ini masih sangat bergantung pada kondisi makro ekonomi Indonesia.

“Sementara ini yang saya kalkulasikan. Kalau tahun depan kayanya proyeksinya ke 6.010 dulu ya,” terang Nafan kepada TrenAsia.com, Kamis, 27 November 2020.

Nafan melihat bahwa dalam masa window dressing ini, saham-saham di sektor finansial, infrastruktur, dan konsumer bakal mengalami kenaikan cukup signifikan. Biasanya, kata dia, saham-saham bank Buku IV seperti PT Bank Central Asia (Tbk) (BBCA) dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan memimpin pergerakan.

Saham Moncer

Sedangkan di sektor infrastruktur, ada saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS). Lalu di sektor konsumer ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP).

“Kalau di sektor pertambangan, saya kira ada ANTM, PTBA, dan INCO juga masih oke ya,” terang Nafan.

Sebagai informasi saja, saham-saham yang direkomendasikan Nafan masih berada di posisi yang lebih rendah dibandingkan penutupan tahun lalu. BBCA misalnya, masih punya potensi penguatan 4,56% untuk kembali ke level awal tahun di harga Rp33.450 per lembar.

Lalu ada TLKM yang level termutakhirnya Rp3.460 per lembar masih terpaut 11,51% dibandingkan awal tahun pada harga Rp3.910 per lembar. Demikian halnya dengan saham PGAS yang masih memiliki gap 31,02% untuk kembeli ke level awal tahun di Rp2.160 per lembar.

Potensi penguatan juga pada saham UNVR yang masih terpaut 9,36% dan GGRM sebesar 16,91% untuk kembali ke level penutupan tahun lalu. Pun demikian dengan HMSP yang masih punya potensi kenaikan 25,23% untuk kembali ke level awal tahun.

Tags:
HeadlineIhsg ditutup menguatrekomendasi sahamwindow dressing
Fajar Yusuf Rasdianto

Fajar Yusuf Rasdianto

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: