WHO Minta Negara Kaya Tunda Dapatkan Suntikan Booster COVID-19 Hingga Akhir Tahun

10 September 2021 11:07 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Editor: Sukirno

WHO Minta Negara Kaya Tunda Dapatkan Suntikan Booster COVID-19 Hingga Akhir Tahun

JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara kaya yang memiliki pasokan vaksin virus COVID-19 yang besar untuk menahan diri dari meluncurkan program booster hingga akhir tahun.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya menyerukan moratorium suntikan booster COVID-19 hingga akhir September, tapi Inggris, Amerika Serikat dan negara lainnya justru mendorong rencana untuk menawarkannya kepada warga yang rentan.

Sementara itu, politisi Inggris Sajid Javid mengatakan pemerintah Inggris yakin bahwa program booster COVID-19 akan segera mendapat lampu hijau dari penasihat ilmiah utamanya dalam beberapa hari ke depan.

Akan tetapi, direktur jenderal WHO justru mengatakan bahwa Inggris dan negara-negara kaya lainnya harus memberikan lebih banyak vaksin kepada negara-negara termiskin dahulu sebelum menawarkan suntikan booster kepada warganya sendiri.

“Saya tidak akan tinggal diam ketika perusahaan dan negara yang mengontrol pasokan vaksin global berpikir bahwa orang miskin dunia harus puas dengan sisa vaksin,” kata Dr Tedros dalam konferensi pers, seperti yang dikutip dari laman The Independent.

Negara-negara kaya juga telah menawarkan untuk menyumbangkan 1 miliar dosis vaksin ke negara lain, tetapi kurang dari 15% dari dosis tersebut telah “terwujud”, kata Dr Tedros. “Kami tidak ingin ada janji lagi. Kami hanya ingin vaksinnya.” tambahnya.

Kepala WHO mengatakan dia menerima pesan dukungan yang jelas dari para menteri kesehatan pada pertemuan G20 bulan ini untuk komitmen membantu mencapai target bahwa semua negara memvaksinasi setidaknya 40 persen dari warga mereka pada akhir tahun.

Ketua WHO juga merasa terkejut dengan komentar oleh asosiasi produsen farmasi terkemuka yang mengklaim bahwa pasokan vaksin cukup tinggi untuk memungkinkan suntikan booster dan vaksinasi di negara-negara yang sangat membutuhkan dosis.

Tedros juga menambahkan bahwa dosis ketiga dari vaksin mungkin diperlukan untuk populasi yang paling berisiko, di mana masih ada bukti berkurangnya kekebalan. Akan tetapi, untuk saat ini penggunaan booster secara luas untuk orang yang sehat sebaiknya dihindari. 

Berita Terkait