Waspada! Ketahui Gejala Kabut Otak yang Kerap Dialami Penyintas COVID-19

31 Juli 2021 23:00 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Waspada! Ketahui Gejala Kabut Otak yang Kerap Dialami Penyintas COVID-19 (Freepik.com)

JAKARTA - Beberapa orang yang telah pulih dari COVID-19, atau yang kerap disebut sebagai penyintas COVID-19 tampaknya terus berjuang selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan karena mengalami kehilangan ingatan jangka pendek, gangguan masalah konsentrasi, dan gejala kognitif lainnya.

Kabut otak atau brain fog sendiri sebetulnya bukan merupakan istilah teknis, melainkan sebagai cara singkat yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian gejala yang memengaruhi pikiran.

Penyintas COVID-19 pada umumnya menunjukkan kombinasi masalah yang berbeda, termasuk kebingungan, kehilangan ingatan, kesulitan mengingat kata-kata, berpikir lambat, kesulitan fokus, dan mudah mengalihkan perhatian.

Seperti halnya COVID-19, prevalensi kabut otak sebagai gejala long COVID juga saat ini masih tidak diketahui.

Mengutip dari Everyday Health, peneliti asal Prancis menanyai 120 pasien sebulan setelah mereka keluar dari rumah sakit karena komplikasi COVID-19. Sekitar 34 persen dari pasien tersebut melaporkan kehilangan memori berkelanjutkan, sedangkan 28 persen mengatakan mereka memiliki masalah dalam berkonsentrasi.

Kini, kabut otak juga terdaftar sebagai salah satu gejala long COVID-10 oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), meski gejala tersebut kurang umum daripada kelelahan, sesak napas, batuk, nyeri sendi atau nyeri dada.

Alasan terjadinya kabut otak hingga kini masih belum jelas. Namun dipercaya penyebab yang paling mungkin berkaitan adalah karena terjadi peradangan yang diciptakan oleh respons imun tubuh daripada virus itu sendiri.

Respons imun yang terlalu aktif juga dianggap bertanggung jawab atas gejala COVID-19 lainnya, termasuk masalah pernapasan yang sering membuat pasien dirawat di rumah sakit.

Mengutip dari Everyday Health, jika respons imun harus disalahkan atas kabut otak, mungkin peradangan di tubuh menjadi begitu luas hingga mencapai otak. Atau bisa jadi sel-sel kekebalan masuk ke otak untuk mengejar virus kecil di sana.

Untuk mengatasinya, maka diperlukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab medis lainnya, seperti stroke yang diketahui dapat terjadi akibat COVID-19. Pasien kemudian dapat dirujuk untuk mendapatkan rehabilitasi kognitif.

Rehabilitasi kognitif seperti terapi fisik, tetapi untuk otak. Hal ini dapat dilakukan dengan tes tertulis dan lisan, yang biasanya dilakukan oleh ahli saraf untuk mengidentifikasi masalah spesifik.

Kemudian, rehabilitasi akan berfokus pada strategi untuk meningkatkan fungsi tertentu, seperti konsentrasi.

Rehabilitasi kognitif merupakan metode yang telah berhasil mengatasi cedera otak traumatis, stroke , dan gegar otak.

Berita Terkait