Waspada! Jakarta dan 3 Provinsi Ini Berpotensi Banjir Sepekan ke Depan

14 September 2021 19:05 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Warga beraktivitas saat banjir merendam pemukiman padat di dekat bantaran kali Ciliwung kawasan Kebun Pala, Jakarta Timur, Selasa 22 September 2020. Curah hujan tinggi dan tingginya debit air di bendung katulampa Bogor, membuat sejumlah pemukiman warga yang berada di bantaran Ciliwung wilayah Jakarta terendam banjir. ( Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewaspadai potensi banjir yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia selama kurang lebih sepekan ke depan. Daerah-daerah tersebut seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Berdasarkan Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak (Impact Based Forecast/IBF) BMKG, potensi dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang dan atau tanah longsor dari cuaca ekstrem hingga 3 hari ke depan.

"Yakni tanggal 15 September 2021 untuk level Siaga," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan resmi, Selasa, 14 September 2021.

Dia menyebut informasi wilayah terdampak lebih spesifik hingga level kecamatan dapat diakses di https://signature.bmkg.go.id/.

Lebih lanjut, Guswanto mengatakan potensi banji dan tanah longsor akibat hujan dengan intensitas tinggi terjadi karena fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin terpantau aktif di wilayah Indonesia hingga seminggu ke depan.

"MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya," katanya.

Dia menambahkan, fenomena MJO dan gelombang Kelvin bergerak dari arah Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati wilayah Indonesia dengan siklus 30-40 hari pada MJO, sedangkan pada Kelvin skala harian.

Sebaliknya, Fenomena Gelombang Rossby bergerak dari arah Samudra Pasifik ke arah Samudra Hindia dengan melewati wilayah Indonesia.

Sama halnya seperti MJO maupun Kelvin, ketika Gelombang Rossby aktif di wilayah Indonesia maka dapat berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah indonesia.

Selain itu, terbentuknya belokan maupun pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dapat mengakibatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Suhu muka laut dan anomali suhu muka laut juga terpantau masih hangat di sebagian besar perairan di Indonesia, yang mendukung peningkatan suplai uap air sebagai sumber pembentukan awan-awan hujan.

"Kondisi tersebut juga didukung oleh masih tingginya kelembaban udara di sebagian besar wilayah di Indonesia hingga seminggu ke depan," pungkas Guswanto.

Kondisi Musim Hujan

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sesuai dengan prediksi Agustus lalu, sebanyak 14,6% akan mengawali musim hujan maju pada September, meliputi Sumatra bagian tengah dan sebagian Kalimantan.

Kemudian, sekitar 39,1% wilayah pada Oktober 2021, meliputi Sumatra bagian selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali.

Sementara itu, sebanyak 28,7 persen wilayah lainnya pada November 2021, meliputi sebagian Lampung, Jawa, Bali-Nusa Tenggara (Nusra), dan Sulawesi.

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis Awal Musim Hujan pada periode 1981-2010, maka Awal Musim Hujan 2021/2022 di Indonesia diprakirakan maju pada 157 ZOM (45,9%), sama dengan rerata klimatologisnya pada 132 ZOM (38,6 persen), dan mundur pada 53 ZOM (15,5%).

Dia menekankan sifat hujan selama Musim Hujan 2021/2022 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 244 ZOM (71,4 persen).

Kemudian sejumlah 88 ZOM (25,7%) akan mengalami kondisi musim hujan atas normal (lebih basah dari biasanya) dan 10 ZOM (2,9%) akan mengalami musim hujan bawah normal.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode sepekan ke depan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung, terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.

Berita Terkait