Wadirut Anggoro Tak Lolos Fit and Proper Test OJK, Dirut Mandiri Dikabarkan Jadi Bos BNI

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk merombak jajaran direksi pada Rabu, 2 September 2020.

Corporate Secretary BNI Meiliana menyebut, agenda RUPSLB besok adalah perubahan susunan pengurus perseroan. Hal ini menyusul ketidaklolosan Wakil Direktur Utama BNI Anggoro Eko Cahyo dalam uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada beberapa waktu lalu.

“Dalam RUPSLB agendanya pergantian pengurus,” ujar Meiliana di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2020.

Dikabarkan, posisi Direktur Utama Bank BNI Herry Sidharta akan diganti oleh Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Royke Tumilaar / Facebook @bankmandiri

Profil Royke Tumilaar

Royke sendiri telah menjadi pemimpin bank berlogo pita kuning tersebut sejak Oktober 2019.  Mengutip laman resmi Bank Mandiri, Royke lahir pada tahun 1964.

Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Manajemen dari Universitas Trisakti pada tahun 1987 dan gelar Master of Business Finance dari University of Technology Sydney pada tahun 1999.

Pada tahun 1999, Royke bergabung dengan Bank Mandiri melalui Bank Dagang Negara (BDN), warisan Bank Mandiri. Jabatan terakhirnya adalah Senior Professional di Tim Penyelesaian Kredit di Jakarta.

Kemudian, pada tahun 2007 ia dipromosikan menjadi Group Head Regional Commercial Sales I yang berakhir pada Mei 2010. Namun, pada Agustus 2009, ia merangkap sebagai Komisaris Mandiri Sekuritas.

Tahun berikutnya, yakni Mei 2010, Royke diangkat menjadi Group Head of Commercial Sales Jakarta sampai dengan Mei 2011. Lalu Mei 2011, ia diangkat menjadi Managing Director Treasury, Financial Institutions & Special Asset Management.

Kinerja Bank Mandiri

Terkait kinerja Bank Mandiri, pada paruh pertama tahun 2020 ini perseroan tersebut mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp9,8 triliun pada semester I-2020. Laba tersebut turun 23,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp12,8 triliun.

Akan tetapi, pendapatan bank pelat merah ini masih mengalami peningkatan meski tipis 0,5% dari Rp37,1 triliun per Juni 2019 menjadi Rp37,3 triliun per Juni 2020.

Penyaluran kredit konsolidasi yang meningkat 4,38% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp871,7 triliun pada paruh pertama tahun ini. Sedangkan, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi tumbuh 15,82% yoy menjadi Rp976,6 triliun.

Pada periode ini, aset bank bersandi BMRI naik 9,1% yoy menjadi Rp1.359,4 triliun. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) mencapai 3,28% per Juni 2020. (SKO)

Tags:
Anggoro Eko CahyoBank BNIBank MandiriBBNIBNIBUMNHerry SidhartaHimbaraojkotoritas jasa keuanganPerubahan DireksiPT Bank Mandiri (Persero) TbkPT Bank Negara Indonesia (Persero) TbkRoyke TumilaarRUPSLBWadirut BNI
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: