Viral di Twitter, Transaksi Kripto Senilai Puluhan Miliar Diduga Milik Indra Kenz

23 Maret 2022 15:05 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Laila Ramdhini

Influencer Indra Kesuma terseret sebagai terlapor dalam dugaan penipuan aplikasi Binomo. Sumber: Instagram.com/@indrakenz. (Instagram.com/@indrakenz)

JAkARTA – Pada Senin, 21 Maret 2022, sebuah utasan viral di Twitter karena membahas soal transaksi kripto senilai puluhan miliar rupiah yang dikaitkan dengan Indra Kesuma alias Indra Kenz. 

Utasan itu dibuat oleh seorang pengguna bernama Robin Syihab yang menggunakan username @anvie. Di bio akunnya, Robin memperkenalkan dirinya sebagai founder Rantai Nusantara Foundation (Nuchain), sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memajukan ekosistem digital Indonesia, khususnya di bidang decentralized application (DApp). 

Robin juga menuliskan dirinya sebagai CTO perusahaan IT yakni PT Ansvia dan software engineer. Selain itu, ia pun menyatakan dirinya sebagai peminat bahasa pemrograman dan ekosistem Web3 atau internet generasi ketiga. 

Dalam utasannya, Robin mengatakan bahwa ia menemukan ada sebuah transaksi besar pada sebuah aset kripto dalam waktu kurang dari 30 menit. Transaksi itu pun melejitkan harga aset yang awalnya senilai Rp3.000 menjadi Rp17.500. 

“Bagi yang sudah biasa trading tentu tahu hal seperti itu tidaklah wajar karena aset kripto itu sudah berhari-hari tidak ada pergerakan yang berarti malah cenderung turun namun kemudian naik drastis. Yang lebih aneh lagi terjadi di tengah santernya informasi negatif terhadap koin tersebut,” tulis Robin dalam utasannya. 

Robin pun mencoba mencari tahu apa yang terjadi dalam rentang waktu yang singkat itu. Ia pun mengunduh data comma separated values (CSV) token kripto “X” dari Etherscan.io untuk melihat data secara leluasa. 

Setelah itu, Robin menemukan ada akun yang melakukan transaksi besar dari dan ke alamat yang sama, 0xee61f5fb0db81d3a09392375ee96f723c0620e07.

“Sebutlah alamat 1, saya penasaran dengan alamat 1 ini, saya menduga dia adalah holder besar dari kripto X tersebut, tetapi ketika saya cek di daftar holders, alamat 1 ini bahkan tidak ada di daftar 50 besar holder koin tersebut,” ujar Robin. 

Menurut keterangan Robin, alamat tersebut melakukan transaksi sebanyak 200-700 kripto X setiap beberapa menit secara konsisten. 

Ia pun menemukan dua alamat lain yang mencurigakan, yaitu 0x00343217b01188388c0e3242278231ace35e1b61 yang disebut dalam utasan sebagai alamat 2, dan 0x3c02290922a3618a4646e3bbca65853ea45fe7c6 yang disebut Robin sebagai alamat 3. 

Robin mengatakan, ketika ia mengecek ketiga alamat di Etherscan, ia menemukan bahwa ketiganya memiliki koleksi aset digital bernilai puluhan miliar rupiah. 

Alamat 1 memiliki 763 aset kripto senilai US$5.458.875 atau setara dengan Rp78,3 miliar dalam asumsi kurs Rp14.358 perdollar AS. Sementara itu, alamat 2 memiliki 241 aset kripto dan 17 non-fungible token (NFT) dengan total nilai US$3.701.593 (Rp53,1 miliar). Kemudian, alamat 3 tercatat menampung 241 aset kripto dan 49 NFT dengan total nilai US$8.677.694 (Rp124,6 miliar). 

Meski Robin menduga transaksi besar terkait tiga alamat itu ada hubungannya dengan pencucian uang yang bisa jadi dilakukan oleh Indra Kenz, namun ia pun mengatakan bahwa dugaan itu masih belum bisa dipastikan.

Menurut Robin, bisa saja transaksi besar-besaran itu merupakan permainan bandar yang sedang memainkan harga pasar. Namun, Robin mengatakan, cukup aneh apabila bandar beraksi ketika tingkat kepercayaan masyarakat pada koin X itu sedang rendah. 

“Kita butuh satu saja konfirmasi, yakni centralized exchange (CEX) apa yang dipakai tersangka selama ini, dari sana nanti kita bisa traceback karena tiga alamat itu menggunakan CEX yang berbeda-beda,” ungkap Robin. 

Robin pun menemukan video saat Indra Kenz memamerkan pendapatannya di aset kripto pada tanggal 27 Desember 2021. Menurut Robin, tampilan CEX yang digunakan Indra Kenz mirip dengan platform Coinbase. 

Kemudian, Robin mendapati penggunaan Coinbase di aliran transaksi Tether (USDT) ke alamat 1, Binance untuk alamat 2, dan Indodax untuk alamat 3. 

PPATK berupaya melacak aliran dana ke aset kripto

Ketua Kelompok Humas Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) M. Natsir Kongah mengatakan pihaknya terus melakukan pelacakan dan penelitian terhadap aset-aset kripto yang disinyalir bisa menjadi lahan pencucian uang Indra Kenz yang menjadi tersangka dalam kasus penipuan investasi. 

Selain melakukan pelacakan lewat rekening bank serta aset-aset fisik seperti mobil dan rumah, PPATK pun melakukan penelusuran terhadap kripto yang bisa saja digunakan Indra untuk menyembunyikan aset miliknya. 

Untuk diketahui, Indra Kenz ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri terkait kasus penipuan, judi online dan TPPU setelah dirinya dilaporkan oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai korban binary option Binomo. 

Indra Kenz dikenal sebagai influencer yang turut berkutat di dunia kripto. Ia bahkan sempat memamerkan bernilai miliaran rupiah.

Pada Desember 2021, Indra Kenz sempat memamerkan aset kripto miliknya saat membuat konten dengan investor Belvin Tannadi. 

Dalam konten tersebut, terlihat Indra Kenz memiliki beberapa aset kripto seperti Bitcoin, XRP, BitTorrent, Ethereum, dan MovieBloc.

Berita Terkait