Vaksin Novavax Baru Datang Kuartal II 2021, Embargo India Ancam Indonesia

March 30, 2021, 11:32 AM UTC

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Tenaga medis menunjukkan vaksin yang digunakan saat vaksinasi massal tahap kedua untuk karyawan dan tenant di Mal Tangerang City, Tangerang, Banten, Senin 1/3/2021 Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengungkap Indonesia akan mendapat pasokan vaksin Novavax mulai kuartal II tahun ini. Indonesia menerima sebanyak 52 juta dosis vaksin Novavax.

“Nanti juga ada segera di kuartal II akan masuk vaksin Novavax, ini lagi berproses,” kata Honesti dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin 29 Maret 2021.

Bio Farma saat ini masih menyelesaikan proses penyampaian data atau rolling submission kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk vaksin Novavax. Untuk menjaga ketersediaan vaksin COVID-19, Bio Farma memulai pengadaan dari AstraZeneca sebesar 1,1 juta dosis yang masuk sejak awal Maret 2021.

Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin ini didapat Indonesia merupakan donasi dari The World Organization and Vaccine Alliance (GAVI). Adapun jumlah keseluruhan vaksin AstraZeneca yang dipesan Indonesia mencapai 54 juta dosis,’

Sedangkan 7,5 juta dosis vaksin AstraZeneca dijadwalkan masuk pada April 2021. BPOM telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency uses authorization (EAU) terhadap vaksin AstraZeneca sejak 19 Maret 2021 lalu.

Dampak Embargo India

Sementara itu, 7,5 juta dosis vaksin AstraZeneca terancam mengalami penundaan pengiriman akibat embargo oleh India sebagai produsen vaksin.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia akan mengalokasikan 7 juta dosis vaksin Sinovac sambil menunggu diplomasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk membuka distribusi vaksin AstraZeneca dan Novavax.

“Saya hanya punya stok 7 juta dosis vaksin Sinovac, itu hanya cukup hanya untuk 14 hari,” kata Menkes Budi dalam rilis Survei Nasional Charta Politika yang dilansir Selasa, 30 Maret 2021.

Mantan Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri ini menjelaskan, keputusan embargo India dilakukan karena adanya lonjakan kasus di negara tersebut.

Untuk diketahui, India merupakan salah satu negara produsen vaksin COVID-19 terbesar. Terdapat vaksin AstraZeneca, Novavax, hingga Pfizer yang diproduksi negara ini.

“India itu naik (kasus positif COVID-19) jadi embargo, vaksinnya tidak boleh keluar. Akibatnya WHO ikut panik karena India pabrik vaksin terbesar setelah China,” keluh Menkes Budi.

Indonesia pun ikut terdampak kebijakan embargo India. Sebanyak 10,6 juta dosis vaksin, kata Budi, belum bisa dikirimkan ke Indonesia akibat embargo ini.

Budi menjelaskan akan melakukan alokasi ulang untuk stok vaksin Sinovac. Dia pun meminta para kepala daerah untuk menjelaskan kondisi ini kepada masyarakatnya agar tidak ada kepanikan.

“Laju penyuntikan kita sudah 500 ribu per hari. Saya sedang mengatur sisa stok vaksin bagaimana agar kita tahan. Tapi saya minta bapak-ibu Gubernur jelaskan kepada masyarakat soal kondisi ini,” pungkas Budi.