Vaksin COVID-19 Unik di China, Tak Disuntik Melainkan Dihirup

06 September 2022 09:40 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Ananda Astri Dianka

BEIJING- Vaksin COVID-19 telah digalakkan oleh seluruh negara setelah pandemi membabakbelurkan ekonomi dunia sejak 2020 lalu. Sejumlah jenis vaksin dipertukarkan ke seluruh penjuru dunia untuk meminimalisir persebaran COVID-19.

Namun, baru baru ini, China membuat sebuah inovasi pada metode vaksin yang hendak dilakukan negara itu pada warganya.

Alih-alih menyuntikkan jarum ke tubuh untuk memasukkan cairan vaksin, Negeri Tirai Bambu membuat vaksin dalam bentuk kabut. Penggunaan vaksin ini dilakukan melalui hidung dengan metode hirup atau inhalasi. Vaksin ini juga telah mendapat persetujuan oleh Regulator China untuk mendukung alternatif booster.

Mengutip Insider Selasa, 6 September 2022, vaksin inhalasi mengandung bahan yang sama dengan yang digunakan di China, CanSino. Tetapi mesin nebulizer mengubahnya dari cairan menjadi semprotan aerosol.

Sekadar tahu, formulasi CanSino mengandung potongan materi genetik sehingga tubuh dapat mengenali virus tersebut. 

Sementara vaksin Moderna dan Pfizer memperkenalkan bahan itu secara langsung, vaksin CanSino menggunakan versi virus flu yang tidak berbahaya untuk membawa informasi tentang virus corona. 

Berdasarkan laporan WHO, suntikan CanSino dosis tunggal sekitar 92% efektif mencegah penyakit parah akibat COVID-19 dan sekitar 58% efektif mencegah penyakit sepenuhnya.

Punya efektivitas sama

Uji klinis dari kabut sebagai booster menunjukkan bahwa itu sama efektifnya dengan vaksin dosis kedua yang banyak digunakan di Asia dan luar negeri.

Sebagai informasi, vaksin kabut hidung dapat meningkatkan perlindungan di lapisan hidung dan saluran udara bagian atas, tempat virus biasanya masuk ke dalam tubuh.

Vaksin lain telah dikemas ulang sebagai kabut sebelumnya, seperti vaksin intranasal FluMist yang terlihat di kantor dokter anak setiap musim flu. 

Metode vaksin inhalasi memberikan alternatif tanpa jarum untuk anak-anak dan orang dewasa, tetapi pada musim flu tahun lalu menunjukkan bahwa vaksin inhalasi tidak selalu mencapai tingkat kemanjuran yang sama dengan suntikan.

Berita Terkait