Untung Selisih Kurs, Laba Telkom Q1-2020 Justru Turun 5,79%

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) harus mencatat penurunan laba bersih 5,79% menjadi Rp5,86 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini, dari periode sama 2019 Rp6,22 triliun. Padahal, perseroan meraup untung selisih kurs Rp205 miliar.

Penurunan laba bersih perseroan juga sejalan dengan penurunan pendapatan 1,86% menjadi Rp34,19 triliun dari Rp34,84 triliun di periode sama 2019.

Direktur Utama Telkom Ririek Andriansyah menjelaskan, pendapatan perseroan dikontribusi oleh Digital Business Telkomsel dan fixed broadband IndiHome sebagai mesin pertumbuhan yang mencatatkan pertumbuhan masing-masing 16,3% dan 19,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kedua lini bisnis ini diharapkan dapat menjadi andalan bagi pertumbuhan bisnis perusahaan di masa depan.

Pada segmen Mobile, Telkom melalui entitas anak Telkomsel, menunjukkan kinerja digital business yang semakin baik dengan pendapatan sebesar Rp15,83 triliun. Peningkatan ini didorong oleh pendapatan Data dan Digital Services, dengan total kontribusi sebesar 70,6% dari total pendapatan Telkomsel. Atau meningkat dari kontribusi sebesar 61,4% di tahun lalu.

Konsumsi Internet Melonjak

“Hal ini tidak lepas dari besarnya basis kunsumen 162,6 juta pelanggan, dengan pengguna mobile data tercatat sebanyak 105,1 juta pelanggan. Rerata konsumsi layanan data juga meningkat signifikan 42,4% menjadi 6.533 MB per pelanggan. Sehingga lalu lintas data juga terus meningkat 41,7% menjadi 1.996.842 Terabyte,” ungkap Ririek melalui keterangan tertulis, Selasa, 30 Juni 2020.

Selanjutnya, segmen Wholesale & International Business menunjukkan kinerja yang baik, dengan mencatatkan pendapatan sebesar Rp3,36 triliun atau tumbuh 15,1% dari tahun sebelumnya.

Sedangkan untuk segmen Enterprise, hingga saat ini Perseroan tetap menjalankan kebijakan bisnis dengan berfokus pada pembenahan secara fundamental yang diikuti perbaikan lini bisnis yang memiliki profitabilitas lebih tinggi dengan capaian pendapatan Rp4,3 triliun.

“Kami memprioritaskan lini bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Disertai upaya-upaya untuk memperoleh pendapatan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan margin profitabilitas dan menjaga pertumbuhan kinerja perseroan yang sustainable ke depan,” tutur Ririek.

Ririek memaparkan, pada dasarnya Telkom memiliki portfolio bisnis yang beragam, sehingga tidak terlalu bergantung pada salah satu segmen bisnis. Jika terjadi pelemahan di salah satu segmen, maka akan diimbangi dengan pertumbuhan di segmen lainnya.

Serapan Capex

Meski dalam kondisi persaingan yang ketat di industri telekomunikasi, Ririek menegaskan, Telkom terus membangun infrastruktur broadband baik untuk mobile maupun fixed line guna menjamin pertumbuhan bisnis di masa depan.

Hal ini ditunjukkan dari nilai penyerapan belanja modal perseroan di kuartal I-2020 sebesar Rp3,7 triliun. Selain membangun infrastruktur broadband (digital connectivity), Telkom Group secara intensif terus mengembangkan digital platform dan digital service sebagai value added dari core competency perusahaan agar terus tumbuh dan berkembang.

Memasuki awal tahun 2020, dunia menghadapi pandemi yang mempengaruhi kondisi ekonomi makro dan berdampak pada bisnis secara umum.

“Kondisi pandemi saat ini telah mengubah gaya hidup masyarakat. Hal ini ditandai dengan peningkatan adopsi digital sebagai solusi pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Seperti untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah ataupun berbelanja kebutuhan sehari-hari,” imbuh Ririek.

Pada kondisi seperti ini, inovasi digital mengambil peran penting bagi masyarakat. Terdapat ruang untuk akselerasi digital, sehingga peran Telkom sebagai operator dan enabler menjadi semakin penting. “Hal ini menjadikan peluang bagi Telkom untuk tetap berinvestasi guna meningkatkan performansi perusahaan,” kata Ririek.

Seiring penurunan laba bersih pada kuartal I-2020, kinerja saham TLKM menutup semester I juga turun. Saham TLKM melemah 4,09% ke level Rp3.050. Dengan begitu, saham TLKM sudah turun 23,17% dari posisi akhir 2019 Rp3.790 per lembar (SKO).

Tags:
BUMNHeadlinekinerja emitenlaba bersihlaba bersih telkomPT Telekomunikasi Indonesia (Persero) TbktelkomTelkom IndonesiaTelkomselTLKM
Issa Almawadi

Issa Almawadi

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: