Untung-Rugi Investasi Telkomsel di Saham GOTO

14 Juli 2022 07:40 WIB

Penulis: Nadia Amila

Editor: Ananda Astri Dianka

Gedung kantor Telkom di kawasan Gatot Subroto, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (Foto: Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA - Investasi anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yaitu PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) ke PT GoTo atau Gojek Tokopedia menuai polemik terlebih menjelang tahun politik 2024.

Meskipun pihak Telkomsel dan GoTo telah menjelaskan tujuan dan manfaat di balik investasi tersebut, isu ini terus digoreng oleh berbagai oknum secara sengaja demi kepentingan politik.

Belakangan, investasi anak usaha BUMN ke perusahaan teknologi ini dikaitkan dengan isu persaudaraan antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dan kakaknya, Garibaldi Thohir, yang merupakan Komisaris Utama GoTo.

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Muchlis Ainur Rofik mengatakan, oknum yang mempolitisasi langkah bisnis anak BUMN tersebut muncul untuk menjegal Menteri BUMN Erick Thohir karena dia disebut sebagai kandidat yang potensial untuk menjadi wakil kepala negara.

"Dalam survei kami, nama Erick Thohir sudah sejajar dengan Mahfud MD, Ma'ruf Amin, Khofifah (Indar Parawangsa), dan Airlangga Hartarto," kata Muchlis dalam sebuah diskusi yang digelar Selasa, 12 Juli 2022.

Investasi Telkomsel ke GoTo

Investasi Telkomsel ke Gojek (sebelum merger dengan Tokopedia) telah direncanakan sejak tahun 2018. Dengan pertimbangan, investasi di bisnis digital ini akan menjadi langkah awal Telkomsel dalam beradaptasi terhadap perkembangan industri telekomunikasi global.

Namun, rencana investasi tersebut gagal karena tiga hal yaitu, model Gojek saat itu belum terbukti, karena Gojek baru menjadi incaran investor pada 2019 karena valuasi Gojek tembus angka US$10 miliar, dan telah menjadi decacorn.

Alasan kedua yaitu terkait regulasi bisnis transportasi online yang saat itu belum jelas. Bisnis transportasi online baru memiliki payung hukum yang jelas ketika Kementerian Perhubungan merilis beleid yang tertuang dalam Permenhub Nomor 12 Tahun 2019 dan kepmenhub Nomor KP 348 Tahun 2019. Kedua beleid tersebut mengatur secara rinci mengenai ketentuan bisnis dan perlindungan keselamatan transportasi umum.

Alasan terakhir yaitu, sinergi antara Gojek dan Telkomsel belum terbayang secara detail. Pada 2018, investasi hanya sebatas capital gain. Namun, tahun 2019 Gojek naik kelas menjadi decacorn.

Investasi Telkomsel ke Gojek berawal pada November 2020 senilai US$150 juta dilanjutkan dengan obligasi konversi (convertible bond) senilai senilai US$300 juta dan memberikan opsi saham GoTo kepada Telkomsel di harga Rp270 per saham.

Pada Mei 2021, Gojek merger dengan Tokopedia kemudian melahirkan GoTo. Aksi korporasi ini membuat Telkomsel mengkonversi seluruh obligasi menjadi kepemilikan saham, dengan total investasi Telkomsel di GoTo mencapai US$450 juta dengan harga Rp270 per saham atau sekitar Rp6,4 triliun.

Merger yang dilakukan oleh Gojek dan Tokopedia menyebabkan meningkatnya minat investor untuk berinvestasi di GoTo. Hal tersebut terbukti saat pendanaan pra-IPO.

Hal ini dipicu kabar GoTo sukses meraup dana pra-IPO senilai US$1,4 miliar dengan valuasi GoTo saat itu mencapai Rp375 per saham, naik 39% dari harga konversi saham Telkomsel di GoTo senilai Rp270 per saham.

Lalu munculah polemik kerugian yang sampai saat ini belum surut. Isu ini mengalir ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berimbas pemanggilan direksi Telkom. Namun, kerugian yang dimaksud adalah unrealized loss, artinya kerugian yang belum pasti sebesar Rp881 miliar dalam laporan keuangan kuartal I-2022.

Potensi Keuntungan

Saat ini kondisi saham GoTo sedang dalam keadaan turun. Dari harga penutupan perdagangan Rabu, 13 Juli 2022, saham GOTO bergerak turun 1,82% atau enam angka menjadi Rp324.

Dalam catatan TrenAsia.com, total saham yang dimiliki Telkomsel senilai Rp6,4 triliun dengan harga Rp270, sebanyak 23,7 miliar lembar saham. Dengan harga penutupan hari ini di Rp324, maka nilai investasi Telkomsel bertambah menjadi senilai Rp7,67 triliun meraup potensi keuntungan Rp1,27 triliun.

Dalam keadaan nilai saham yang turun, Telkomsel tetap mendapatkan keuntungan, karena Telkomsel membeli saham GoTo dengan harga Rp270.

Lalu bagaimana dengan isu kerugian? Isu kerugian yang berembus saat ini diindikasi hanya untuk kepentingan politik semata, yang kemudian dikait-kaitkan dengan investasi yang dilakukan Telkomsel ke GoTo. Sebab, Erick Thohir merupakan menteri BUMN yang merupakan Rising Star, kandidat kuat untuk menjadi wakil kepala negara.

Embusan isu ini ditambah dengan isu kepentingan Erick dengan saudaranya yang merupakan Komisaris Utama GoTo, yang membuat isu ini akan semakin banyak digoreng oleh oknum yang memiliki kepentingan politik ataupun oknum yang ingin menjatuhkan nama BUMN.

Hal ini terbukti dengan keuntungan yang didapatkan Telkomsel dalam berinvestasi dengan GoTo. Telkomsel awalnya membeli saham dengan harga Rp270 lalu sekarang menjadi Rp324.

Di sosial media banyak orang menganggap investasi yang dilakukan Telkomsel ke GoTo tersebut kurang wajar dan tidak tepat.

Menanggapi itu, Founder & CEO Finvesol Consulting Indonesia Fendi Susiyanto mengatakan, investasi yang dilakukan Telkom tersebut sudah tepat dan sudah semestinya dilakukan, karena jika dihitung pertumbuhan dalam aspek sinergi bisa sampai 8-10%. Hal ini akan membuat Telkomsel bertahan dalam era bisnis digital ini.

“Jadi kalo mau survive harus melakukan banyak kolaborasi dan perusahaan digital lain,” kata Fendi dalam acara isu investasi telkomsel dikutip pada Rabu, 13 Juli 2022.

Fendi memaparkan bentuk adaptasi yang dilakukan Telkomsel yang membuat heboh jagat maya juga ternyata telah dilakukan oleh perusahaan Telekomunikasi raksasa kelas dunia yaitu, AT&T dan Verizon dengan begitu agresifnya berinvestasi di bisnis digital sejak lima tahun terakhir.

Hal ini dilakukan karena semakin pesat perkembangan teknologi, perusahaan telekomunikasi tidak dapat bergantung dari bisnis masa lalu seperti, jual paket data, pulsa dll. Bisnis tersebut akan mati dengan perkembangan dengan begitu, agar perusahaan telekomunikasi tetap bisa bertahan di gencatan kemajuan digital, telekomunikasi harus berkolaborasi dengan perusahaan digital masa kini.

“Transaksi yang dilakukan Telkomsel, memang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan strategi untuk jangka panjang. Perusahaan internasional yang melakukan hal serupa contohnya verizon mengucurkan dana senilai$26 miliar, dan banyak perusahaan melakukan hal yang sama. Jadi ini sudah menjadi trend global, kalo mau survive, Telkom harus banyak melakukan strategi yang anorganik seperti ini,” kata Fendi.

Berita Terkait