Unilever Sewa Gudang MM2100, Laba Mega Manunggal Justru Turun 26,5%

May 02, 2020, 04:26 PM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

MMP Warehouse milik PT Mega Manunggal Property Tbk. / Dok. PT Mega Manunggal Property Tbk

Emiten kawasan industri PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) mencatat penurunan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar 26,5% pada kuartal I-2020 menjadi Rp25,22 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp34,33 miliar.

Sekretaris Perusahaan Mega Manunggal Property Khrisna Daswara mengatakan total kewajiban perseroan per 31 Maret 2020 meningkat Rp166 miliar atau 15% dibandingkan dengan 31 Desember 2019.

“Peningkatan pendapatan diterima di muka sebesar Rp46,1 miliar atau 41% sehubungan dengan penerimaan di muka atas pendapatan sewa dari tenant terutama dari PT Unilever Indonesia Tbk.,” kata dia dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis, 30 April 2020.

Peningkatan kewajiban juga terjadi lantaran lonjakan liabilitas sewa pembiayaan sebesar Rp47,2 miliar atau 13.998%. Lonjakan itu terjadi lantaran sewa tanah yang dibukukkan sebagai properti investasi.

Kendati demikian, kewajiban berhasil ditekan lantaran penurunan utang pajak senilai Rp7,9 miliar atau 63% terutama dari pajak pertambahan nilai (PPN).

Sementara dari sisi aset, terjadi kenaikan tipis Rp252 miliar atau 4% dari akhir tahun lalu. Peningkatan kas dan setara kas senilai Rp60,8 miliar setara 47% yang berasal dari kas bersih dari operasional dan pinjaman Rp54,5 miliar dan Rp120,7 miliar, serta dikurangi aktivitas investasi Rp114,4 miliar.

Dari sisi kinerja, pendapatan emiten bersandi saham MMLP ini naik 11,29% menjadi Rp95,3 miliar pada periode Januari-Maret 2020. Namun, beban pokok pendapatan hanya naik tipis 5,8% menjadi Rp6,75 miliar sehingga laba kotor naik 18,4% menjadi Rp88,55 miliar.

Kinerja 2019

Sementara itu, kinerja perusahaan pengelola kawasan industri pergudangan MM2000 ini mengalami penurunan tajam hingga 48,66% year-on-year (yoy) sepanjang periode 2019.

Emiten propeti ini berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp333,98 miliar, naik 11,61% dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya Rp299,23 miliar.

Segmen pendapatan dari sewa kantor dan gudang menjadi kontributor terbesar, jumlahnya mencapai Rp288,1 miliar. Kemudian, segmen sewa peralatan menyumbang Rp25,66 miliar dan pendapatan lain-lain Rp20,21 miliar.

Akan tetapi, beban pokok pendapatan ikut meningkat 12,48% menjadi sebesar Rp28,56 miliar. Sementara pada 2018, akun beban tersebut hanya sejumlah Rp25,39 miliar. Setelah diakumulasi, laba kotor tercatat sebesar Rp305,42 miliar naik 11,53% dari Rp273,83 miliar.

Namun, MMLP mencatat adanya kenaikan sejumlah pos beban sepanjang 2019. Beban umum dan administrasi naik tipis 4,27% dari yang semula hanya Rp57,53 miliar menjadi sebesar Rp59,99 miliar.

Akun biaya keuangan juga meningkat 13,25% menjadi sebesar Rp53,75 miliar. Sedangkan periode sebelumnya sebesar Rp57,53 miliar. Kemudian, pajak penghasilan final tercatat sebesar Rp33,59 miliar. Angka ini meningkat 12,07% dari Rp29,97 miliar pada 2018.

Menurunnya kinerja emiten properti ini juga didukung oleh merosotnya sejumlah pos pendapatan. Secara rinci, penghasilan bunga pada 2019 menurun 17,2% menjadi Rp6,69 miliar, sedangkan pada 2018 sebesar Rp8,08 miliar.

Penurunan juga terjadi pada akun kenaikan nilai wajar atas properti investasi yakni sebesar Rp124 miliar pada periode 2019. Perolehan itu merosot 14,04% dibandingkan dengan periode 2018 yang sebesar Rp144,26 miliar.

Terlebih, Mega Manunggal Property mengalami kerugian penjualan properti investasi pada 2019, nilainya mencapai Rp18,26 miliar. Padahal di tahun sebelumnya akun ini tidak muncul pada laporan keuangan perusahaan.

Hal ini membuat kinerja perusahaan semakin tertekan pada periode itu. Sehingga perusahaan properti ini hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp113,17 pada 2019. Perolehan ini melorot hingga 48,66% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp220,47 miliar.

Di sisi lain, nilai aset perusahaan meningkat 10,83% pada 2019 menjadi Rp6,75 triliun, sedangkan periode sebelumnya sebesar Rp6,09 triliun. Sedangkan saat yang sama, total liabilitas juga naik 43% menjadi Rp1,12 triliun dari semula sebesar Rp783 miliar.

Adapun, total ekuitas Mega Manunggal Property per 31 Desember 2019 mencapai Rp5,62 triliun naik tipis 6,03% dari tahun 2018 yang sebesar Rp5,3 triliun.

Perusahaan pergudangan yang berdiri sejak 2010 ini memiliki land bank 440.147 meter persegi dengan area yang disewa 368.000 meter persegi di lima lokasi berbeda.

Sejumlah perusahaan telah menjadi penyewa di gudang-gudang milik Mega Manunggal, yakni Unilever hingga Lazada. Lokasi gudang berada di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta Timur, MM2100 Cibitung Bekasi, Tapos Cimanggis Depok, Jababeka, dan Cileungsi Narogong Bogor.

Saham MMLP dikempit oleh UOB Kay Hian (Hong Kong) Ltd – Madison Pacific Trust Ltd OBO Bridge Leed Limited (32,79%), PT Mega Mandiri Properti (21,55%), West Bridge Developments Limited (16,89%), dan publik (28,12%).

Pada perdagangan Kamis, 30 April 2020, saham MMLP ditutup turun 2,78% sebesar 4 poin ke level Rp140 per lembar. Kapitalisasi pasar saham MMLP mencapai Rp965,4 miliar dengan imbal hasil negatif 66,02% dalam setahun terakhir. (SKO)