Ungguli China, PMI Manufaktur Indonesia Januari 2022 Naik Lagi Jadi 53,7

03 Februari 2022 11:40 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Fakhri Rezy

Ilustrasi industri manufaktur di pabrik saat menghadapi era new normal. (Kemenperin.go.id)

JAKARTA -- Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan pertama tahun 2022 kembali naik menjadi 53,7 setelah bulan sebelumnya berada di level 53,5. Membaiknya PMI Manufaktur menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang dalam tahap ekspansif.

Capaian PMI Manufaktur ini melampaui PMI Manufaktur raksasa ekonomi China yang mencapai 49,1 dan rata-rata negara ASEAN yang sebesar 52,7; Malaysia 52,8; Filipina 50; Korea Selatan 51,9; dan Rusia 51,8.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan hasil survei IHS Markit ini menunjukkan bahwa kondisi industri pengolahan nonmigas masih bergeliar pada awal tahun 2022. "Kabar baik ini merupakan sinyal atau indikator bahwa pelaku industri makin optimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini,” katanya di Jakarta, Kamis, 3 Februari 2022.

Dia menegaskan, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif, meskipun di tengah tekanan gelombang ketiga pandemi COVID-19 dengan munculnya varian Omicron yang sedang melonjak tinggi sejak awal tahun.

"Berbagai kebijakan strategis telah dijalankan pemerintah dalam mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional, termasuk memberikan stimulus bagi pelaku industri agar bisa berproduksi dan berdaya saing," paparnya.

Agus meyakini, sektor industri manufaktur tetap memainkan peranan penting bagi perekonomian nasional.

"Peran penting ini dapat dilihat dari kinerja makro sektor industri manufaktur di beberapa indikator, misalnya dari realisasi investasi, capaian ekspor, dan penambahan tenaga kerja,” ungkapnya.

Dari sisi ekspor, industri manufaktur terus memberikan kontribusi yang paling besar. Nilai ekspor industri manufaktur pada tahun 2021 sebesar US$177,10 miliar atau menyumbang hingga 76,49% dari total ekspor nasional sepanjang tahun.

Capaian tersebut melampaui nilai ekspor manufaktur sepanjang tahun 2020 sebesar US$131 miliar dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor tahun 2019 yang berada di angka US$127,38 miliar.

Sementara itu, realisasi investasi di sektor manufaktur pada tahun 2021 tercatat sebesar Rp325,4 triliun atau naik 19,24$ dari nilai investasi tahun 2020.

Pada aspek ketenagakerjaan, sektor industri manufaktur menunjukkan pemulihan dari segi penyerapan tenaga kerja.

Seiring dengan bangkitnya sektor industri pengolahan dari dampak pandemi, ada tambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang tahun lalu sehingga jumlah total tenaga kerja di sektor ini kembali meningkat ke angka 18,64 juta orang.

Menurut IHS Markit, sektor manufaktur Indonesia terus berekspansi pada tingkat solid di awal 2022. Kondisi permintaan secara umum menguat, sebagian karena catatan kenaikan pada penjualan asing yang mendukung kenaikan lebih tajam pada output manufaktur. Hal ini kemudian mendorong kenaikan aktivitas pembelian dan aspek ketenagakerjaan.

Sentimen secara keseluruhan di sektor manufaktur bertahan positif pada bulan Januari, dengan perusahaan secara umum berharap bahwa situasi COVID-19 akan terus membaik, yang dapat memungkinkan perekonomian terus bertumbuh.

Berita Terkait