UNESCO: Musik Reggae adalah Warisan Budaya

TrenAsia (TA) -tcodep style="text-align: justify;">JAKARTA– Badan budaya dan ilmiah PBB, UNESCO memasukkan genre musik reggae sebagai warisan budaya. Genre musik tersebut dipopulerkan oleh Bob Marley, musisi yang berasal dari Jamaika. 

Reggae pertama telah ditambahkan ke daftar kekayan budaya global. Reggae masuk ke “Daftar Representatif Warisan Budaya Tak Berwujud Manusia,” bergabung dengan lebih dari 300 praktik tradisional lainnya di seluruh dunia pada daftar agen PBB.

“Kontribusinya terhadap wacana internasional mengenai isu ketidakadilan, perlawanan, cinta dan kemanusiaan menggarisbawahi dinamika elemen sebagai serebral, sosio-politik, sensual dan spiritual,” kata UNESCO dalam sebuah pernyataan dikutip dari national public radio (npr.org), Jumat (30/11)

Reggae dinilai merupakan salah satu gaya musik yang paling disukai di dunia saat ini, meski memiliki perbedaan dari zaman ke zaman. UNESCO menilai bahwa reggae memiliki fungsi-fungsi sosial dasar dari musik – sebagai kendaraan untuk komentar sosial, praktek katarsis, dan sarana memuji tuhan. 

UNESCO memperbesar daftar setiap tahun; lusinan gaya musik, tari, dan teater telah dimasukkan, meskipun mungkin tidak ada yang begitu terkenal, atau populer secara komersial di seluruh dunia, seperti reggae.

Reggae adalah suatu aliran musik yang awalnya dikembangkan di Jamaika pada akhir era 60-an. Sekalipun kerap digunakan secara luas untuk menyebut hampir segala jenis musik Jamaika, istilah reggae lebih tepatnya merujuk pada gaya musik khusus yang muncul mengikuti perkembangan ska dan rocksteady.

Di Indonesia, reggae juga menjadi salah satu genre yang paling banyak diminati. Adapun tokoh musisi reggae Indonesia diantaranya: Tony Q Rastafara, Grup Band Steven N Coconut Treez dan Ras Muhammad. ***(Nasser Panggabean)