UMKM Naik Kelas! Mitra Bukalapak Pimpin Penetrasi Bisnis O2O Hingga 42 Persen

21 September 2021 14:04 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Pekerja beraktivitas di Sentra Kerajinan Batik Tradisiku, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 24 Agustus 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Riset Nielsen yang dilakukan pada Juni 2021 terhadap 3.000 warung dan kios pulsa menemukan bahwa di antara 14 kota di seluruh Indonesia, Mitra Bukalapak memimpin penetrasi online to offline (O2O) sebesar 42%.

“Saat ini jumlah penetrasinya paling tinggi dibandingkan kompetitor yang ada,” kata Presiden PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), Teddy Oetomo dikutip dari publikasi Impact by Bukalapak, Selasa 21 September 2021.

Di segmen warung yang menggunakan platform O2O, Mitra Bukalapak memimpin penetrasi di kategori grocery/bahan makanan sebesar 55% & penetrasi produk virtual sebesar 52%. Dengan angka tersebut, Mitra Bukalapak saat ini sejalan dengan tujuan digitalisasi pasar konvensional Indonesia.

Teddy menjelaskan, berdirinya Mitra Bukalapak dilatarbelakangi oleh masih banyaknya UMKM yang belum terdigitalisasi. Di Indonesia, berdasarkan data dari laporan “E-warung, Indonesia’s New Digital Battleground” yang dirilis grup CLSA Ltd pada September 2019, 70% dari total penjualan ritel di Indonesia masih dilakukan secara offline dimana 65% di antara dilayani oleh warung. 

Pada 2017, Bukalapak meluncurkan Mitra Bukalapak guna membantu warung tradisional bersaing di era digitalisasi dengan usaha retail modern. Dengan Mitra Bukalapak, warungwarung tradisional kini dapat menawarkan layanan online tambahan seperti pembayaran tagihan dan isi ulang pulsa kepada para pelanggannya. 

Pada 2018, anggota Mitra Bukalapak berjumlah 1,3 juta Mitra dan saat ini jumlahnya meningkat secara signifikan menjadi 8,7 juta yang terdiri dari warung dan agen individu yang tersebar di seluruh Indonesia.

Berita Terkait