Dua Office Tower Rampung, Tingkat Hunian Perkantoran Jakarta Makin Tertekan

23 Juli 2021 20:12 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi perkantoran. Foto: pexels.com (Pexels.com)

JAKARTA – Tingkat hunian perkantoran Jakarta masih tertekan hingga kuartal II-2021. Kekosongan ruang kantor ini juga diperparah dengan adanya tambahan suplai baru yaitu Trinity Tower di kawasan niaga terpadu atau central business district (CBD) dan Pondok Indah Office Tower 5 di area non-CBD.

Data konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menunjukkan kehadiran Trinity Tower menambah 160.000 meter persegi (m2) pasokan kantor baru di CBD Jakarta. Dengan demikian, total suplai kantor CBD Jakarta sebesar 6,8 juta m2.

“Dengan adanya keterbatasan permintaan dan adanya gedung baru yang selesai pada kuartal II-2021, Trinity Tower, membuat tingkat hunian terus tertekan di angka 73%,” ujar Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim dalam paparannya secara virtual, dikutip Jumat, 23 Juli 2021.

Tingkat hunian yang tertekan ini pun membuat harga sewa perkantoran CBD Jakarta turun 3% pada kuartal II-2021. Saat ini, harga sewa rata-rata berada di angka Rp255.154 per m2 per bulannya.

Yunus juga menyebut turunnya harga sewa ini karena banyak pemilik gedung kantor yang menawarkan harga miring untuk menarik penyewa, terutama gedung-gedung yang masih sepi penyewa.

Head of Office Leasing JLL Angela Wibawa mengatakan sebagian besar perusahaan masih melakukan peninjauan ulang terhadap strategi mereka mengenai ruang kantor dan menerapkan pendekatan wait-and-see terhadap kondisi saat ini.

“Salah satu opsi yang dilakukan untuk merespons keadaan di masa pandemi adalah dengan memperbaharui masa sewa di gedung yang sama dengan jangka waktu lebih singkat (short-term renewal),” kata Angela

Selain itu, Angela juga mengatakan, pihaknya melihat terjadinya konsolidasi dan/atau pengurangan luas ruang perkantoran sebagai cara yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan biaya.

Kondisi Kantor Non-CBD Jakarta

Untuk kantor non-CBD, tingkat hunian sedikit lebih baik dibandingkan dengan kantor CBD yaitu 75%. Tingkat hunian ini turun 1% dari tingkat hunian kuartal I-2021 yang tercatat 76%. Hadirnya suplai baru, yaitu Pondok Indah Office Tower 5, jadi alasan di balik tertekannya angka ini.

Masuknya Pondok Indah Office Tower 5 telah menambah suplai baru sebesar 38.500 m2 pada kuartal II-2021. Adapun, suplai keseluruhan kantor non-CBD Jakarta sebesar 3,1 juta m2.

“Aktivitas tenant (penyewa) masih terbatas akibat perusahaan yang melakukan cara-cara untuk menjaga kestabilan bisnis mereka. Strategi-strategi yang mereka lakukan juga mirip seperti yang dilakukan di kawasan CBD,” ujar Yunus.

JLL memprediksi ada sekitar 550.000 m2 pasokan baru yang akan masuk hingga 2025. Pasokan baru ini membuat tingkat keterhunian lebih tertekan lagi. Suplai baru ini kebanyakan berlokasi di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara.

Salah Satu CBD Terpadat Dunia

Beberapa waktu yang lalu, JLL menggolongkan CBD Jakarta sebagai salah satu negara dengan kepadatan perkantoran CBD tertinggi di dunia, yaitu 9.3 meter persegi (m2) per orang.

“Amat menarik untuk mengamati masa depan ruang perkantoran pascapandemi, Khususnya di Jakarta sebagai salah satu kota dengan rasio luas ruang perkantoran terhadap orang yang relatif cukup padat dibandingkan kota-kota global lainnya,” ujar Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim.

Kepadatan CBD Jakarta ini juga lebih padat dari kepadatan CBD rata-rata global yang sebesar 13,3 m2 per orang. JLL menggolongkan kepadatan CBD ini ke dalam tiga grup, yaitu pusat bisnis global, destinasi outsourcing proses bisnis, dan mega-hub yang sedang berkembang.

Berita Terkait