Transisi ke Energi Bersih yang Terlalu Cepat Jadi Dalang Krisis Energi Dunia

14 Oktober 2021 15:04 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi pertambangan batu bara. / Pixabay

JAKARTA – Krisis energi di berbagai negara seperti China, India, dan beberapa negara Eropa dianggap merupakan buntut dari dunia yang melakukan transisi ke energi baru terbarukan (EBT) terlalu cepat.

Kepala Riset Komoditas Goldman Sachs, Jeffrey Currie menyebutkan krisis energi ini seperti balas dendam energi fosil. Katanya, balas dendam ini karena dunia yang terus mempromosikan transisi cepat ke kendaraan listrik dan energi yang lebih ramah lingkungan.

“Semua modal sudah diarahkan ke ekonomi baru (EBT) dan mencekik modal yang harusnya dipakai untuk menambah suplai di energi fosil,” ujar Currie seperti dikutip dari MarketWatch, Rabu, 13 Oktober 2021.

Para analis Goldman pun memprediksi krisis energi ini akan berlanjut menghasilkan commodities boom selama lebih dari satu dekade. Commodities boom ini sebelumnya sempat terjadi juga pada 2000-an hingga awal 2010-an, di mana harga-harga komoditas melonjak tinggi.

Meski ada rencana untuk mencapai nol bersih emisi karbon pada 2025, keadaan sekarang di mana krisis energi terjadi di mana-mana membuat reliabilitas energi hijau sebagai tenaga dasar dipertanyakan. Akhirnya, mencapai target emisi karbon tersebut pun jadi lebih sulit.

Analis senior The Price Futures Group, Phil Flynn mengatakan krisis energi ini menjadi peringatan bagi para pembuat kebijakan untuk melakukan pendekatan yang lebih berimbang dalam transisi ke EBT.

“Kalau tidak begitu, ini bisa jadi bencana. Para pembuat kebijakan perlu mencari cara agar transisi ini masuk akal jika tujuan mereka memang untuk mengurangi emisi karbon,” katanya, mengingatkan.

Krisis Energi China

Financial Times melaporkan pembangkit listrik bertenaga batu bara masih menjadi pembangkit listrik paling umum di China, sekitar 70% dari total pembangkit listrik. Akhir-akhir ini, pembangkit-pembangkit listrik tersebut benar-benar kekurangan tenaga karena keputusan pemerintah China menutup tambang batu bara.

Ditambah, China juga melakukan pelarangan ekspor batu bara dari Australia sejak tahun lalu akibat hubungan bilateral kedua negara yang masih tegang. 

China pun saat ini kewalahan atas meningkatnya permintaan untuk energi ketika ekonomi memulih pascapandemi COVID-19. Akhirnya, China mulai kembali ke batu bara meski pemerintahnya berusaha untuk mengurangi emisi karbon.

Keadaan ini pun membuat China mulai melepas batu bara Australia dari rantai suplainya sebagaimana dilaporkan Reuters. Bahkan ada spekulasi yang mengatakan China berencana mencabut larangan ekspor batu bara dari Australia jika masalah krisis ini terus berlanjut.

Rusia, Dalang Krisis Energi Eropa

Rusia sebagai negara Eropa penghasil minyak dan gas terbesar dituduh menjadi dalang dari krisis energi di kawasan tersebut saat ini. Tuduhan tersebut menyebut Rusia sengaja menahan ekspor global untuk terus meningkatkan harga minyak dan gas.

Presiden Rusia Vladimir Putin menampik tuduhan ini pada Rabu lalu dan mengatakan Gazprom, BUMN gas Rusia, tidak menahan produksi dan berkomitmen untuk memenuhi kontrak gas di Eropa.

Putin justru menyalahkan pemimpin negara Eropa lain atas kegagalan mereka mengelola energi. Gazprom juga berencana akan meningkatkan suplai gas ke Eropa sebanyak mungkin dan peningkatan lebih dari itu perlu dinegosiasikan langsung dengan perusahaan.

Di Inggris, tarif listrik tercatat meningkat serta bahan bakar kendaraan sulit didapatkan. Kenaikan tarif listrik ini diakibatkan oleh naiknya permintaan akan gas alam. Harga gas yang tidak stabil membuat biaya pembangkitan listrik di Inggris meningkat.

Selama ini, Inggris memang memfokuskan penggunaan gas alam sebagai pembangkit listrik karena dianggap lebih bersih dari batu bara. Meski begitu, keadaan saat ini membuat negara Ratu Elizabeth tersebut menghidupkan lagi pembangkit listrik West Burton A pertama kali dalam enam bulan.

Berita Terkait