Transisi Demografi Bisa Jadi Peluang Sekaligus Malapetaka

12 Juni 2021 16:12 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Transjakarta buses run on a dedicated line separated from traffic at Pemuda Pramuka bus stop on Jalan Ahmad Yani, East Jakarta.

JAKARTA – Transisi demografi dinilai dapat menjadi jendela peluang sekaligus malapetaka. Hal ini disampaikan oleh Dedek Prayudi, Executive Director dari Centre for Youth Population Research (CYPD) saat mengisi seminar daring, Jumat, 12 Juni 2021.

Seperti diketahui, istilah transisi demogradi mengacu pada keadaan di mana tingkat kelahiran dan kematian menjadi rendah karena ekonomi suatu negara. Menurut Dedek, transisi demografi umumnya terjadi sekali saja.

Maka, potensi terjadinya peluang sekaligus malapetaka bisa berasal dari aktivitas penduduknya.

“Jika penduduk ini tidak produktif secara ekonomi dan sosial, maka menyumbang kriminalitas. Kalau gagal, bisa terjebak di middle income trap,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Dedek menyebut perlunya dilakukan pemberdayaan pemuda. Generasi yang saat ini berusia 16-30 tahun, mengalami puncak demografi pada 2024.

Ke depan, generasi ini diharapkan bisa menjadi generasi emas dan yang menentukan masa depan Indonesia . Adapun pemberdayaan ini bermakna erat dengan pemberdayaaan ekonomi dan sosial.

“Artinya, mereka sehat, terdidik, dan bekerja sesuai dengan kapabilitas,” tambahnya.

Namun, lanjut Dedek, jika melihat tata kelola lingkungan hidup di Indonesia, data dari Greenpeace pada 2015-2018 menunjukkan, kebakaran hutan di Indonesia sudah mencapai 3,4 juta hektare.

Ini terkait dengan lingkungan karena bepengaruh terhadap aktivitas dan perkembangan penduduk.

Di DKI Jakarta, misalnya, polusi udaranya satu per tiga disebabkan oleh pembangkit listrik batu bara. Ditambah limbah, per hari kota besar ini memproduksi 7500 ton sampah.

“Sampah ini luasnya sebesar candi Borobudur, dikirim semuanya ke Bekasi. Sebagian besar disebabkan aktivitas manusia, sampai konsumsi,” kata Dedek.

Maka, CYPR mendorong pemberdayaan pemuda harus dilakukan secara berkelanjutan, dengan cara melestarikan alam.

Dedek pun mencontohkan, kebijakan sederhana yang bisa dilakukan misalnya mengganti bensin dengan energi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini, kata dia, setidaknya ada konsep harm reduction.

“Saya ingin gali dari pemuda yang bisa memproteksi alam. Jadi ada pemberdayaan pemuda dengan lingkungan hidup,” ungkapnya.

Berita Terkait