Transformasi Ekonomi Hijau, Indonesia Butuh RP3.461 Triliun Hingga 2030

March 05, 2021, 08:11 PM UTC

Penulis: Reky Arfal

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Nasional Perpajakan secara virtual, Kamis, 3 November 2020/ Sumber: Tangkapan layar TrenAsia.com

JAKARTA – Indonesia telah memasukkan aspek perubahan iklim ke dalam prioritas nasional keenam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Ada tiga program prioritas terkait perubahan iklim yakni peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan ketahanan bencana dan perubahan iklim, serta pembangunan rendah karbon.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sangat vital sebagai instrumen fiskal dalam mendorong proses transformasi ekonomi hijau.

Berdasarkan data dari Second Biennial Update Report (2nd BUR) tahun 2018, Indonesia diperkirakan membutuhkan pendanaan untuk pengendalian perubahan iklim sebesar Rp3.461 triliun hingga tahun 2030.
 
“Berarti per tahunnya saja setidaknya kita memerlukan Rp266,2 triliun,” kata Sri Mulyani berdasarkan keterangan resmi, Jumat 5 Maret 2021.

Dari hasil penandaan anggaran perubahan iklim atau Climate Budget Tagging (CBT) sejak 2016 sampai dengan 2020, APBN hanya dapat memenuhi sekitar Rp86,7 triliun per tahunnya atau 34% dari kebutuhan tersebut.

Artinya, Indonesia masih memiliki financial gap yang besar untuk memenuhi target kebutuhan pendanaan ekonomi hijau.

Karena itu, Sri Mulani menyebutkan diperlukan dukungan pendanaan yang sangat besar untuk meningkatkan ketahanan iklim di Indonesia.
Untuk membantu pendanaan perubahan iklim, pemerintah menerbitkan Green Sukuk pertama kali di pasar global tahun 2018.

“Penerbitan green sukuk pertama total sebesar US$1,25 miliar, dengan penjaminan (underlying) berupa proyek-proyek hijau di kementerian /lembaga,” sebut Sri.
 
Pengendalian perubahan iklim membutuhkan dukungan dan komitmen yang kuat. Kesungguhan dan keyakinan bersama untuk mampu melakukan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi kunci utama keberhasilan upaya global ini.

Pasalnya, saat ini perubahan iklim menjadi persoalan serius yang harus dihadapi seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Isu ini berimbas bukan hanya bagi lingkungan saja, tetapi juga persoalan pembangunan yang berdampak pada sektor keuangan, ekonomi, pembiayaan dan sebagainya.

Berita Terkait