Tokyo Cetak Rekor Kasus Tertinggi, 16 Staf Olimpiade Terpapar COVID-19

29 Juli 2021 12:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Patung perunggu Pierre de Coubertin (kiri), pendiri Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Cincin Olimpiade di Japan Sport Olympic Square, Tokyo, 20 April 2020.

JAKARTA -- Tuan rumah olahraga terbesar dunia, Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang mencatat lonjakan kasus harian COVID-19 tertinggi pada Rabu, 28 Juli 2021. Ditemukan 3.000 kasus baru dengan 16 orang diantaranya merupakan staf Olimpiade.

Dengan tambahan 16 staf Olimpiade, maka total ada 169 staf terpapar COVID-19. Namun demikian, tidak satupun atlet yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Melansir Anadolu, pejabat pemerintah Jepang mengatakan kepada Kyodo News bahwa temuan kasus baru ini mengikuti rekor kasus pada Selasa sebanyak 2.848 kasus.

Peningkatan kasus antara lain terjadi di Provinsi Tokyo, Kanagawa, dan Chiba  karena varian virus Delta. Ketiga provinsi juga sedang mempertimbangkan untuk meminta pemerintah pusat untuk memperluas keadaan darurat di wilayah mereka karena meningkatnya infeksi virus.

Jepang kini telah melaporkan total 875.506 kasus virus corona, termasuk 15.137 kematian, sejak pandemi dimulai pada 2019 di China.

Satu hal yang patut disayangkan adalah bahwa peningkatan kasus COVID-19 justru terjadi tatkala Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade di bawah protokol ketat COVID-19 sejak akhir pekan lalu untuk membendung penularan virus.

Ada kekhawatiran baru terjadi penularan virus di antara para atlet yang bisa berisiko menggagalkan keikutsertaan atlet pada turnamen terbesar di dunia tersebut.

Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo kemudian memastikan pihaknya terus berkoordinasi dengan banyak komponen untuk menjamin keberlangsungan turnamen hingga selesai pada 8 Agustus mendatang.

"Kami ingin membuat komitmen untuk tetap menyelenggarakan pertandingan yang aman dan terjamin sampai akhir," kata Masanori Takaya, juru bicara panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo dalam konferensi pers.

Sebelumnya, para ahli memperingatkan varian Delta, yang pertama kali terdeteksi di India, dapat menyebabkan lonjakan kasus yang mengkhawatirkan yang dapat mencapai puncaknya sekitar 3 Agustus, lima hari sebelum Olimpiade berakhir.

Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan pada Selasa bahwa tidak ada alasan untuk menangguhkan Olimpiade Tokyo 2020, Associated Press melaporkan.

"Tidak ada kekhawatiran tentang itu," kata Suga kepada wartawan.

Dia berspekulasi bahwa Olimpiade mungkin sebenarnya telah mengurangi paparan di antara penduduk kota, karena kontrol lalu lintas dan situasi kerja jarak jauh di tempat untuk mengakomodasi Olimpiade.

Namun, Suga sekali lagi meminta semua orang menghindari perjalanan yang tidak penting, dengan mengatakan kepada warga untuk menonton Olimpiade dari rumah.

CEO Olimpiade Tokyo 2020 Toshiro Muto sebelumnya mengatakan dia tidak mengesampingkan pembatalan Olimpiade selama 11 jam, jika situasinya memburuk secara drastis akibat COVID-19.

"Kami akan melanjutkan diskusi jika ada lonjakan kasus. Kami telah sepakat bahwa berdasarkan situasi virus corona, kami akan mengadakan pembicaraan lima pihak lagi. Pada titik ini, kasus virus corona dapat naik atau turun, jadi kami akan memikirkan apa yang harus kami lakukan ketika situasinya muncul," katanya belum lama ini.*

Berita Terkait