Titik Balik Perbaikan Arus Kas Waskita Karya Usai Diguyur PMN Jumbo

21 Juli 2021 09:48 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Tol Becakayu milik PT Waskita Karya (Persero) Tbk lewat PT Waskita Toll Road resmi dijual kepada investor/Foto: Waskita.co.id

JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah resmi menggelontorkan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp72,45 triliun pada 2022 dan tambahan Rp33 untuk tahun ini. Dana segar ini menjadi motor baru untuk membenahi sejumlah masalah ekuitas di tubuh BUMN.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) jadi salah satu perusahaan pelat merah yang mendapat dana jumbo tersebut. WSKT mendapat PMN tambahan 2021 sebesar Rp7,9 triliun dan Rp3 triliun pada 2022. Senior Vice President (SVP) Corporate Secretary Waskita Karya Ratna menyatakan dana PMN tersebut secara langsung berdampak pada penguatan permodalan di tubuh perseroan.

“Dana yang akan diterima Waskita melalui PMN rencananya akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan Waskita dalam melakukan restrukturisasi,” ucap Ratna kepada saat dihubungi Trenasia.com, Rabu, 21 Juli 2021.

Dana PMN ini, kata Ratna, semakin memperkuat upaya penyelesaian liabilitas Waskita Karya yang tercatat mencapai Rp88,5 triliun pada kuartal I-2021. PMN ini nantinya bisa memperpanjang nafas WSKT untuk melakukan restrukturisasi utang.

Sejauh ini, terdapat lima bank yang telah menyetujui restrukturisasi WSKT dengan nilai outstanding mencapai Rp19,3 triliun. Nilai restrukturisasi tersebut setara 65% dari pokok pinjaman Waskita yang mencapai Rp29,26 triliun.

Lima bank yang menyetujui restrukturisasi WSKT terdiri dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).

Ratna membeberkan nilai restrukturisasi terbesar ada di BNI, yakni Rp9,16 triliun. Kemudian Bank Mandiri, Rp4,61 triliun, BRI Rp2,79 triliun, BSI Rp1,71 triliun, dan Bank BPD Banten Rp998,22 miliar.

Waskita Karya mendapat perpanjangan tenor hingga 31 Desember 2026 dengan opsi tambahan pada 2031. Adapun Waskita Karya juga mendapat penyesuaian bunga atas pinjaman tersebut.

Selai itu, Ratna juga menyampaikan WSKT meminta bantuan penjaminan ke pemerintah terhadap beban utang yang dimiliki perseroan. Strategi ini ditempuh agar WSKT mengantongi bunga yang lebih kompetitif sekaligus bisa memperbaiki arus kas dengan tenor yang tidak terlalu mencekik

“Serta kami juga meminta pengajuan dukungan kepada Pemerintah dalam bentuk Penjaminan Pinjaman dan Surat Utang,” ucap Ratna.

Untuk diketahui, sejak Juni 2021, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyetujui penjaminan atas obligasi WSKT senilai Rp15,3 triliun.

Pengajuan penjaminan itu mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan nomor 211/PMK.08/2020 tahun 2020 tentang Tata Cara Pemberian Penjaminan Pemerintah untuk Badan Usaha Milik Negara Dalam Rangka Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

PMN ini juga menjadi dana segar tambahan dalam penyelesaian proyek eksisting WSKT. Percepetan penyelesaian proyek ini, kata Ratna, bisa semakin mendorong divestasi sehingga beban keuangan bisa semakin ditekan.

“Akan meningkatkan kemampuan Waskita dalam melakukan pendanaan dalam rangka penyelesaian 7 ruas tol eksisting milik Waskita,” ucap Ratna.

Proyek tersebut meliputi Jalan Tol Krian-Legundi-Bundar-Manyar (KLBM) yang progresnya mencapai 86,39%, Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo 71,56%, Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu 94,34%, dan jalan Tol Cimanggis-Cibidung 78,10%.

Kemudian Jalan Tol Ciawi-Sukabumi dengan progres 51,52%,  Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung yang progresnya mencapai 85,81%, dan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung yang progresnya menyentuh 81,64%.

Tujuh ruas tol ini yang kemudian bakal segera dilego WSKT segera setelah proyek tersebut selesai. Usai melepas tujuh ruas tol tersebut, Ratna mengatakan Waskita Karya optimistis dalam menjaring kontrak-kontrak baru mulai tahun ini.

Menurutnya, Waskita Karya saat ini memiliki tingkat pemenangan tender hingga 35%. Dengan adanya perbaikan pada arus kas perseroan melalui PMN, Waskita Karya bisa mendongkrak kinerjanya di tahun ini.

Tertinggal dari BUMN lain

Sepanjang semester I-2021 ini, Waskita Karya nyatanya tertinggal dalam urusan mendapatkan capaian kontrak baru. Waskita Karya berada di posisi bontot setelah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).

WIKA telah mencatatkan kontrak baru senilai Rp9,5 triliun pada semester I-2021. Jumlah ini meroket 179,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,4 triliun.

Lalu, PTPP dengan raihan kontrak baru sebesar Rp8,5 triliun dan ADHI dengan kontrak baru senilai Rp6,7 triliun. Sementara WSKT baru mengumpulkan kontrak baru senilai Rp3,1 triliun hingga akhir Juni 2021.

Peluang Dilirik INA

Meski begitu, WSKT masih berpeluang mendapat proyek-proyek strategis. Pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyebut WSKT berpeluang meningkatkan produktivitas karena dilirik oleh  Indonesia Investment Authority (INA).

Keterlibatan WSKT dalam menggarap proyek INA, kata Toto, membuka peluang memperkecil Debt to Equity Ratio (DER). Hingga kuartal I-2021, WSKT memiliki tingkat DER hingga 4,7 kali. Ini lebih tinggi dari posisi akhir 2020 yang sebesar 4,5 kali. Posisi akhir 2020 itu pun membengkak dari tahun sebelumnya yang hanya 2,5 kali.

WSKT punya daya tawar (bargaining) yang kuat agar dilirik oleh INA. Pasalnya, BUMN Karya ini tercatat telah menggarap lebih dari 1.300 kilometer (km) jalan tol sejak 2014.

Catatan kinerja itu yang bisa menjadi pertimbangan INA untuk memberikan proyek pembangunan kepada WSKT. Bila tidak ada halangan, Toto meyakini DER WSKT bakal menyusut tajam.

“Memanfaatkan pembiayaan yg berasal dari INA untuk menyehatkan struktur financing, karena kita tahu DER WSKT ini sudah sangat tinggi, akan semakin sulit menerima kredit bila struktur financing-nya belum sehat.” Jelas Toto kepada Trenasia.com, Rabu, 21 Juli 2021.

Toto juga menilai capaian kontrak baru WSKT yang rendah tidak sepenuhnya bermasalah. Pasalnya, WSKT juga tercatat mengantongi kontrak baru yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) sehingga punya dukungan kuat dari pemerintah dalam pengerjaannya.

Terbaru,  Waskita Karya ditunjuk untuk menggarap pembangunan PSN jalan Long Semamu-Long Bawan 2 di Kalimantan Utara. Jalan ini berada di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. 

Waskita akan mengerjakan proyek dengan total nilai kontrak Rp225 miliar ini bersama PT Duta Mega Perkasa. Dalam kerja sama ini, WSKT bertindak sebagai lead contractor yang mendapat porsi 70% dari nilai kontrak secara keseluruhan.

 

Berita Terkait