Tips Mencari Pekerjaan Baru di Masa Pandemi dan Hal-Hal yang Perlu Disiapkan

08 Agustus 2021 15:29 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

ilustrasi pencari kerja (Digination, Google)

JAKARTA -- Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia di penghujung tahun 2019, banyak orang kehilangan pekerjaannya oleh karena berbagai kebijakan yang menyertainya.

Ada yang kehilangan pekerjaan karena diberhentikan oleh perusahaan dimana mereka bekerja bertahun-tahun. Perusahaan melakukannya guna menekan biaya operasional yang tinggi di tengah kesulitan penjualan dan produktivitas perusahaan.

Di sisi lain, ada juga yang kehilangan pekerjaan karena dirumahkan, tetapi kemudian perlahan-lahan ditinggalkan, alias tidak lagi membayar gaji mereka.

Menurut survei Forbes, misalnya, ada perusahaan yang hanya memperkerjakan pekerja kerah biru atau buruh dan banyak wawancara yang dibekukan perusahaan.

Memang, mencari pekerjaan baru di masa pandemi COVID-19 merupakan sesuatu yang berat, butuh pejuangan ekstra untuk mendapatkan aliran informasi terbaru dari sejumlah platform mengenai lowongan pekerjaan atau kesempatan bekerja.

Dengan segala sesuatu yang terjadi dengan pandemi, sebagian besar perusahaan melakukan pekerjaan jarak jauh untuk memastikan keselamatan karyawan mereka.

Bersamaan dengan itu, ada banyak lowongan pekerjaan yang tersedia di Google yang bisa diambil pencari kerja karena semua perusahaan juga sedang mencari pekerja yang bekerja entah melalui skenario kontrak atau menjadi pekerja lepas (freelancer).

Seorang pencari kerja hanya butuh kesabaran untuk terus mencari dan belajar bagaimana melihat peluang yang tepat untuknya.

Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan momentum pandemi guna mencari pekerjaan baru.

1. Perluas Networking

Satu hal yang penting untuk seorang pencari kerja (jobseeker) di masa pandemi adalah dengan memperluas jaringan (networking).

Hal ini penting karena dengan jaringan yang lebih luas, seorang pencari kerja bisa mencari tahu berbagai lowongan pekerjaan yang ada kepada teman, kenalan atau komunitas.

Mungkin saja perusahaan tempatnya bekerja sedang membuka lowongan, namun informasinya hanya beredar di kalangan internal. Dengan begitu kamu bisa memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan peluang itu.

Di samping itu, rekanan kamu bisa juga merekomendasikannya kepada perusahaan lain yang dikenalnya. Siapa tahun pencarian kamu tersangkut di sana.

Selain rekanan yang telah dikenal dekat, kamu juga bisa memanfaatkan mediasosial untuk menemukan sebanyak mungkin orang baru yang memiliki akses informasi ke sejumlah perusahaan atau tempat kerja.

Namanya juga sedang mencari kerja, siapa tahu kamu dipanggil dan diwawancarai.

2. Selalu Cari Tahu Informasi Terbaru

Dengan teknologi informasi yang makin canggih, kamu juga bisa memanfaatkan berbagai platform informasi untuk terus mencari tahu informasi-informasi terbaru mengenai lowongan kerja.

Beberapa informasi yang bisa dihimpun, misalkan saja, bagaimana kondisi ekonomi saat ini, perusahaan apa saja yang mampu bertahan di tengah pandemi, industri utama apa yang justru mengalami peningkatan dan berbagai informasi terbaru lainnya.

Dengan aset informasi yang ada, kamu bisa memilih mana yang cocok untuk kemudian mengirimkan lamaran kerja.

3. Menambah Skill

Sambil menunggu pekerjaan baru, kamu juga sebaiknya menambah keterampilan (skil) dengan terus belajar berbagai hal.

Di tengah persaingan yang makin deras, kita membutuhkan berbagai ketrampilan alternatif selain ketrampilan utama. Karena itu, kuncinya adalah terus belajar.

Misalnya, sebagai pekerja administrasi, tetapi karena diberhentikan, kamu bisa belajar keahlian di bidang lain yang sesuai dengan profil kebutuhan perusahaan saat ini.

4. Memilih Sistem Kerja yang Cocok

Di masa pandemi, tidak jarang banyak perusahaan yang menerapkan pekerjaan yang tidak bersifat tetap alias freelance.

Momentum tersebut bisa dimanfaatkan untuk pencari kerja sambil mencari lain yang lebih tepat untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup harian, termasuk menafkahi keluarga.

Pasalnya, banyak perusahaan yang pada masa pandemi terpaksa menurunkan gaji karyawannya, termasuk tidak membayar penuh untuk seorang pekerja lepas.

Sebaliknya, masih banyak juga perusahaan yang menginginkan agar karyawannya harus meneken kontrak agar bisa bekerja lebih fokus untuk perusahaannya.

Durasi kontraknya pun biasanya tergantung pada masing-masing perusahaan. Ada yang 3 bulan, 6 bulan, setahun atau lebih.

Hal-Hal yang Perlu Disiapkan

Menurut Wasim Hajjiri, mengutip Forbes, ada tiga hal yang perlu dipersiapkan bagi seorang pencari kerja, yakni branding, networking dan persiapan wawancara dan negosiasi gaji.

1. Branding

Sebagai pencari kerja, branding yang harus disiapkan secara baik adalah profil diri yang terangkum dalam Curiculum Citae (CV) dan juga profil media sosial Linkedin.

Saat ini banyak perekrut dan manajer perekrutan menggunakan sistem pelacakan pelamar atau applicant tracking system (ATS),  atau aplikasi lain untuk mencari kandidat pekerjaan.

ATS mencari kata kunci di resume dan profil LinkedIn kamu. Ini cukup sederhana dan mudah digunakan.

Kamu hanya perlu mengunggah resume CV, menyalin dan menempelkan deskripsi pekerjaan dan menunggu panggilan.

Di Indonesia, sudah banyak aplikasi atau platform lamaran kerja, yang bertujuan menghubungan pencari kerja dengan perekrut atau perusahaan.

2. Networking

Ketika dipanggil oleh perusahaan atau perekrut, langkah selanjutnya adalah menjalin networking dengan mereka. Hal itu penting untuk menambah daya tarik pada saat wawancara nantinya.

Hal yang harus kamu lakukan adalah membuka Linkedin dan mulailah terhubung dengan mereka dengan volume tinggi setiap hari. Dengan begitu, jika posisi yang dilamar tidak berhasil, kamu akan membuka pintu untuk peluang lain di perusahaan itu.

3. Persiapan Wawancara dan Negosiasi Gaji

Tahap selanjutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu para pencari kerja: wawancara. Tahap ini sangat menentukan karena terkadang menjadi standar seorang perekrut melihat potensi kamu.

Satu hal yang penting dilakukan adalah mempersiapkan mental secara baik sehingga kamu tidak gegabah atau gugup saat menjawab setiap pertanyaan perekrut yang kabanyakan menjebak pelamar.

Pasalnya, kebanyakan orang memiliki banyak kecemasan ketika datang ke wawancara. Nah, ketika kamu memasuki periode itu, maka dengan sendirinya dalam sekejap mata semuanya akan buyar dan pengalaman wawancara menjadi amat menyedihkan.

Untuk menghindarinya, kamu harus berada dalam kondisi ketenangan. Karena itu, sebelum wawancara, kamu bisa melakukan meditas selama 10-20 menit, olahraga 15-30 menit, dengarkan audio inspiratif 15-30 menit dan jurnal selama 5 menit.

Kemudian bermeditasi lagi tepat sebelum wawancara. Saat bermeditasi, visualisasikan diri kamu berhasil melewati pertanyaan dan mendapatkan hasil yang kamu inginkan.

Selanjutnya, adalah kamu dan perusahaan bisa melakukan negosiasi gaji. Biasanya perusahaan tidak memberi keputusan apapun karena mereka akan melempar pertanyaan mengenai besara gaji yang diinginkan kepada pelamar.

Karena itu, kamu tidak perlu mematok besaran gaji yang terlalu besar atau terlalu rendah. Nilailah besaran gaji berdasarkan pengalaman kerja dan juga pengalaman di perusahaan sebelumnya.

Apalagi di masa pandemi, banyak perusahaan yang melakukan efisiensi biaya, sehingga kamu hanya perlu mematok besaran gaji secukupnya dan membuktikan bahwa nantinya kamu bisa bekerja sesuai besaran itu bahkan lebih besar dari itu.*

Berita Terkait