Tips Hadapi Kepanikan COVID-19 ala Mahfud MD

30 Juli 2021 01:27 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Ketua DPR Puan Maharani bersama Menkopolhukam Mahfud MD, Menkumham Yasonna Laoly, Mendagri Tito Karnavian, Menpan RB Tjahjo Kumolo, Menhan Prabowo Subianto, Mensesneg Pratikno memberikan keterangan kepada media terkait pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 16 Juli 2020. Pemerintah dan DPR RI mengambil sikap untuk tidak melanjutkan pembahasan RUU HIP, dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut mempelajari, memberi saran, masukan dan kritik terhadap konsep Rancangan Undang-Undang Badan Pembina Ideologi Pancasila (RUU BPIP) sebagai pengganti RUU Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) kepada pimpinan DPR. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA -- Gelombang penularan COVID-19 di Indonesia meledak naik sejak awal tahun ini bersamaan dengan terlaksanannya vaksinasi nasional. Hingga pertengahan Juli, tingkat penularan masih tinggi. Namun dalam beberapa hari terakhir mulai terlihat tren perlambatan seiring pemberlakukan PPKM.

Ledakan kasus COVID-19 sempat membuat pemerintah dan masyarakat panik. Pemerintah khawatir karena Indonesia tidak cukup memiliki infrastruktur pendukung untuk penanganan COVID-19. Masyarakat panik karena tertekan pembatasan aktivitas yang membuat ekonomi mereka lumpuh.

Di tengah kepanikan kekhawatiran tersebut, Menteri Koordinator BidanG Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD memberikan pesan optimisme agar seluruh elemen masyarakat melihat krisis kesehatan global ini sebagai masalah yang pasti bisa diatasi.

Pakar hukum tata negara ini pun memberikan tips-tips agar masyarakat tidak terlalu khawatir dan panik dengan kondisi pandemi. Dia meminta agar masyarakat selalu mengandalkan ketenangan dalam menghadapi krisis, termasuk pandemi COVID-19.

Ketenangan, menurut Mahfud, lahir dari kepercayaan atau keyakinan bahwa penyakit apapun pasti ada obat atau jalan keluarnya. Dalam hal ini, ketenangan itu tidak hanya menyangkut hal-hal fisik, tetapi lebih kepada ketenangan batin atau spiritual.

Setiap manusia pasti menginginkan ketenangan, terutama ketenangan hati. Di tengah kriris, konflik, penyakit, dan ketakutan, orang mudah putus asa. Hanya ketenangan yang bisa membawa manusia menjadi lebih sehat dan damai.

Karena itu, dalam nasihatnya, tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU) ini mengutip pernyataan Nabi Muhammad SAW, menyebut bahwa hanya kepercayaan yang membawa ketenangan dan kedamaian bagi manusia.

"Hadapilah penyakit dengan tenang dan ikhtiar karena kata Nabi Muhammad SAW, 'Setiap penyakit ada obatnya' (likulli da'in dawa'un)," ujar Mahfud dalam sebuah keterangan, dilihat TrenAsia.com, Kamis, 29 Juli 2021.

Dengan mengutip kata-kata Nabi Muhammad, secara tidak langsung Mahfud mau mengajak seluruh masyarakat agar memanfaatkan momen krisis ini untuk lebih percaya kepada Allah; percaya kepada penyelenggaraan Allah atas hidup manusia dan kembali ke jalan yang benar agar bisa mendapatkan ketenangan yang hakiki.

Mahfud, yang pernah masuk bursa Calon Wakil Presiden 2019 untuk Jokowi kemudian menyebut bahwa salah satu obat atau penangkal untuk menghadapi COVID-19 saat ini satu-satunya adalah dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. 

Pasalnya, sampai saat ini belum ada satu pun obat yang bisa mengobati virus yang mula-mula muncul di Wuhan, China tahun 2019 ini.

Vaksinasi, menurut beberapa ahli, bukanlah obat untuk mengobati COVID-19. Dia hanyalah solusi untuk mencegah tingkat penularan yang agresif di masyarakat. Nyatanya, banyak orang yang telah vaksin masih juga terpapar COVID-19.

Untuk itu, resep paling mujarab untuk menangkal COVID-19 adalah prokes yang lahir dari kesadaran etis tentang pentingnya nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan kita.

"Seperti penyakit-penyakit lain, COVID-19 ada penangkal dan obatnya: ikuti program vaksinasi, lakukan prokes: sering cuci tangan bersabun, pakai masker, jaga jarak," ungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.*

Berita Terkait