Tingkatkan Keuangan Digital, BI Gandeng Bank Asal Filipina

03 Februari 2020 14:26 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

bi.go.id

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) meneken kerja sama dengan Bangko Sentral ng Philipinas (BSP) di sektor sistem pembayaran dan inovasi keuangan digital pada (01/02) di Filipina.

Gubernur BI, Perry Warijiyo menandatangani kesepakatan ini bersama dengan Gubernur BSP, Benjamin E. Diokno. Kerja sama ini turut melengkapi kerja sama terkait antipencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme (APU PPT) di bidang sistem pembayaran dan penyelesaiaan yang telah dilakukan pada 2018 silam.

Tujuan dari penandatanganan ini adalah demi terwujudnya cita-cita bersama dua negara akan inklusivitas keuangan yang aman, efisien, handal, serta mendorong kemajuan inovasi keuangan digital.

“Nota kesepahaman ini juga menjadi fondasi dalam pelaksanaan kerja sama BI dan BSP ke depan yang diimplementasikan dalam berbagai bentuk kegiatan yaitu dialog kebijakan, pertukaran informasi, kolaborasi, pengembangan kapasitas, program pengenalan bisnis teknologi finansial, dan pembentukan kelompok kerja teknis,” ungkap BI dalam siaran persnya (03/01).

Terkait kerja sama di sektor keuangan digital, PT Bank CIMB Tbk (BNGA) telah mendapatkan izin kerja sama dengan perusahaan dompet elektronik asing, yakni WeChat Pay. Dengan kerja sama ini, BNGA mengharapkan pengguna WeChat Pay dapat meningkatkan current account and saving account (CASA) alias penghimpunan dana murah.

BNGA sendiri menargetkan kenaikan CASA mencapai 8,1 persen pada 2020. Adapun PT Bank Mandiri Tbk mematok target single digit 8%-9%, PT Bank Panin Tbk membidik pertumbuhan 9%-11%.

Sebagai informasi, dana murah adalah dana yang berasal dari giro dan tabungan. Sebaliknya, istilah dana mahal berasal dari deposito. Biasanya perbankan selalu berupaya memperoleh dana murah yang besar dari masyarakat.

Dompet Elektronik Asing

Saat ini, laju kerja sama dompet digital asing ke Indonesia terbilang masih lambat, hal ini disebabkan oleh banyak Faktor. Termasuk di antaranya karena mewabahnya Coronavirus yang mempengaruhi dunia investasi global.

Dari dalam negeri, bank konvensional lain mengaku mengalami berbagai kesulitan bekerja sama dengan WeChat sebagaimana yang baru dilakukan BNGA. Pihak Bank Mandiri mengaku tidak terburu-buru menjalin kerja sama karena masih senang menggunakan LinkAja yang merupakan produk sendiri.

Senada dengan Bank Mandiri, Bank BCA juga mengatakan kendala menggandeng WeChat, yaitu terkait mediator yang bertugas menyingkronkan transaksi WeChat Pay berstandar QR Code Indonesia Standar (QRIS).

“Sebelum diluncurkan QRIS sudah rampung sebenarnya secara regulasi, teknis. Setelah QRIS terbit mesti ada perusahaan IT sebagai mediator. Kami belum menyiapkan ini,“ kata Jahja pada Kontan (03/02).

Berita Terkait