Tim Riset Bank Mandiri Prediksi Ekonomi Indonesia Terkontraksi Hingga Minus 1,0% pada 2020

15 Agustus 2020 19:16 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Bank Indonesia (BI) melaporkan survei Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2020 kembali menunjukkan deflasi 0,05% month-to-month (mtm). / Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Tim riset ekonomi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memperkirakan perekonomian Indonesia akan terkontraksi sebesar minus 1,0% pada 2020, dengan konsumsi rumah tangga yang menurun sebesar 1,23%.

Mengacu pada hasil survei dari Bank Indonesia (BI), penjualan eceran masih terkontraksi. Hal ini terindikasi dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2020 yang turun sebesar 17,1% year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 20,6% (yoy).

Menurut perseroan, penurunan IPR terdalam sepanjang sejarah terjadi pada Mei 2020 disebabkan oleh adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Meskipun demikian, kinerja penjualan eceran pada Juni 2020 mulai membaik seiring dengan mulai dibukanya kembali pertokoan dan aktivitas ekonomi di beberapa wilayah,” tulis keterangan tersebut, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Perbaikan tersebut terjadi hampir di seluruh kelompok barang, terutama kelompok bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 27,0% (yoy), membaik dibandingkan Mei 2020 sebesar 45,4% (yoy).

Di samping itu, penjualan eceran kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalami kontraksi 7,6% (yoy). Namun, secara regional, kinerja penjualan eceran di Makassar mencatatkan perbaikan terbesar, yaitu dari  minus 10,7% (yoy) pada Mei 2020 menjadi 4,5% (yoy) pada Juni 2020.

Penjualan eceran pada Juli 2020 pun diperkirakan meneruskan tren perbaikan meskipun masih akan terkontraksi. Hal ini tercermin dari perkiraan IPR Juli 2020 yang turun sebesar 12,3% (yoy).

Penopangnya, antara lain berasal dari penjualan kelompok makanan, minuman dan tembakau yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

“IPR kelompok barang tersebut diperkirakan masih akan mengalami kontraksi sebesar minus 2,1% (yoy) pada Juli 2020,” tambahnya.

Dari sisi inflasi, tekanan pada tiga bulan mendatang diperkirakan menurun, sedangkan pada enam bulan mendatang meningkat.

“Indikasi tersebut terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tiga bulan mendatang yang menurun menjadi 131,5 dibandingkan 138,6 pada bulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh permintaan yang rendah akibat daya beli yang masih terbatas.” lanjut keterangan tersebut.

Sementara itu, tekanan kenaikan harga pada Desember 2020 diperkirakan meningkat, diindikasikan oleh IEH enam bulan mendatang yang sebesar 156,1, lebih tinggi dibandingkan 142,5 pada bulan sebelumnya. Hal tersebut sejalan dengan perkiraan meningkatnya aktivitas ekonomi saat perayaan Natal dan libur akhir tahun.

Terakhir, nilai tukar rupiah masih melanjutkan tren pelemahan seiring masih tingginya ketidakpastian ekonomi. Nilai tukar rupiah pada akhir pekan, Jumat, 14 Agustus 2020, ditutup melemah 0,1% ke posisi Rp14.775 per dolar Amerika Serikat (AS), dan bergerak pada rentang Rp14.677 – Rp14.793 per dolar AS.

“Tekanan volatilitas masih cukup besar disebabakan oleh prospek ekonomi yang masih belum menentu dan kondisi pandemi masih belum terkendali,” tulis keterangan tersebut.

Berita Terkait