Tim Peneliti Targetkan Vaksin Merah Putih Siap Digunakan Awal 2022

30 Mei 2021 22:15 WIB

Penulis: Laila Ramdhini

Petugas medis menunjukkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac sebelum dilakukan penyuntikan kepada tenaga kesehatan di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2021.Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Ketua Tim Peneliti Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Fedik Abdul Rantam menyatakan vaksin merah putih siap digunakan pada awal 2022 setelah memperoleh hasil bagus saat uji praklinik tahap satu.

“Harapannya, pada Desember 2021 atau paling lama Maret 2022, vaksin Merah Putih Unair sudah masuk skema industri,” ujar dia, dikutip dari Antara, Minggu, 30 Mei 2021.

Hasil pemeriksaan yang bagus dilihat dari perkembangan dengan titer antibodi yang trennya baik sekali. Pemeriksaan ini mencakup immunotyping, ginjal, hematologi, toksisiti, dan pemeriksaan darah total.

Hasil pemeriksaan tersebut nantinya juga dijadikan dasar untuk melakukan uji praklinik fase dua. Untuk itu, kata dia, saat ini pihaknya bersama tim tengah menyiapkan uji praklinik fase dua, termasuk makaka sebagai hewan uji coba.

“Kemudian menentukan berapa efikasi, dosis, dan lain-lain untuk persiapan uji klinik fase satu pada manusia,” ucap dia.

Sesuai rancangan yang sudah berjalan, lanjut dia, pada Agustus mendatang akan dimulai uji klinik fase satu pada manusia.

Sebelumnya, Unair melaksanakan riset vaksin dengan beberapa platform, antara lain platform inactivated virus, platform viral vector dengan adenovirus, dan platform peptide.

Ketiga platform tersebut masih berlanjut dan konstruksi virus telah selesai lebih awal untuk lanjut ke uji preklinis dan uji klinis.

“Rencana lain kami adalah menyiapkan varian virus lain. Ini untuk menjaga kalau ini (vaksin merah putih) fail (gagal) maka ada subtitusi. Tidak perlu menunggu 10 bulan sampai menjadi seed vaccine,” katanya.

Lebih lanjut, Fedik berharap penelitian ini sesuai dengan harapan pemerintah dan juga masyarakat Indonesia, yakni, pengembangan vaksin mandiri agar pemerintah dapat mengatasi virus COVID-19 secara mandiri pula.

“Bagi akademisi, kami optimistis bisa mengembangkan teknologi membuat vaksin sendiri, dan ini sebagai awal,” katanya. (LRD)

Berita Terkait