Tiket Pesawat Mahal, Erick Thohir Minta Maskapai Nasional Stabilkan Harga

17 Agustus 2022 10:06 WIB

Penulis: Muhammad Farhan Syah

Editor: Fakhri Rezy

Pesawat Airbus A330-300 milik maskapai penerbangan BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. / Airbus.com

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta agar sejumlah maskapai nasional berperan untuk menstabilkan harga tiket pesawat yang saat ini masih melambung tinggi. 

Erick menegaskan kalau maskapai nasional harus bisa berperan sebagai motor yang mampu menyediakan tiket pesawat dengan harga terjangkau bagi seluruh rakyat.

Menurut Erick, Salah satu usaha untuk mentabilkan harga tiket pesawat adalah dengan mendorong maskapai nasional seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) agar menambah volume penerbangannya.

“Kalau Garuda bisa lebih produktif lagi dalam jumlah pesawatnya sehingga pengurangan dari stabilitas harga tiket bisa diseimbangi," ujar Erick Thohir dalam keterangan resmi dikutip Rabu, 17 Agustus 2022.

Untuk mendukung penambahan volume penerbangan serta mentabilkan harga tiket pesawat bagi maskapai nasional, Erick berharap agar dana penanaman modal negara (PMN) yang disiapkan pemerintah untuk Garuda bisa segera cair dalam waktu dekat. 

Dengan modal tersebut, Erick optimistis bahwa Garuda mampu bersaing secara bisnis sekaligus mampu menghadirkan layanan penerbangan dengan harga yang terjangkau bagi seluruh rakyat. 

"Garuda dulu kita harap (PMN) segera cair, apalagi kita lihat industri penerbangan mesti kita jaga, harga tiket pesawat ini kan sangat mahal," ujar Erick

Sementara itu, Menteri BUMN juga menyebutkan bahwa fenomena mahalnya harga tiket pesawat saat ini dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama penyebab. Pertama karena meroketnya harga bahan bakar pesawat yakni Avtur di pasaran global saat ini.

Harga avtur saat ini memang sedang mengalami lonjakan harga yang hebat sebagai akibat dari berlangsungnya konflik geopolitik antara Rusia dan ukraina. Mengutip data PT Pertamina (Persero), harga avtur di bandara Soekarno-Hatta kini telah mengalami lonjakan harga hingga sebesar 55,38% selama periode antara bulan Januari hingga Juli 2022.

Faktor kedua yang menyebabkan melonjaknnya harga tiket pesawat adalah karena belum maksimalnya jumlah armada pesawat yang saat ini disediakan oleh para maskapai dengan rute penerbangan menuju daerah tertentu.

“Kedua adalah daerah tujuan tertentu yang jumlah pesawatnya tidak maksimal,” tambah Erick.

Sedangkan, faktor terakhir yang menyebabkan mahalnya harga tiket pesawat adalah karena terbatasnya jumlah pesawat yang saat ini tersedia dan dijual di pasaran. Itu dikarenakan adanya aksi pengurangan jumlah produksi pesawat oleh para produsen besar kenamaan seperti Boeing dan Airbus.

Meski faktor tersebut memberatkan, Erick optimistis Garuda mampu memanfaatkan momentum kebangkitan industri pesawat sekaligus berperan menjaga stabilitas harga tiket pesawat dengan menghadirkan layanan penerbangan yang terjangkau bagi seluruh rakyat.

 

Berita Terkait