Tiket Murah, Cara Jerman Mengurangi Ketergantungan Energi dari Rusia

15 Juli 2022 17:20 WIB

Penulis: Andi Reza Rohadian

Editor: Ananda Astri Dianka

Andi Reza Rohadian (Andi Reza Rohadian)

Jam menunjukkan pukul 17.00 di Stasiun Kereta Api Erfurt, Jerman Tengah. Pada petang di pertengahan Juni silam, sepasang suami-istri asal Indonesia tampak mondar-mandir dari peron satu ke peron lainnya. 

Mereka mencari informasi kereta tujuan Ilmenau di wilayah Jerman Timur. Rupanya pergerakan mereka diamati oleh dua warga negara Indonesia yang kebetulan berada di stasiun di Negara Bagian Thuringen. Mereka lalu menghampiri suami-istri itu. 

“Bapak ibu dari Indonesia?,” tanya Nadin, salah seorang dari mereka. “Betul,” jawab si suami.

Suami-istri ini tak ubahnya orang hilang setelah mereka turun di stasiun yang salah saat kereta yang ditumpangi dari Amsterdam, Belanda, memasuki Frankfurt, Jerman. Mereka turun di Stasiun Frankfurt Main, seharusnya pindah kereta di Stasiun Frankfurt Hauptbanhof. 

Beruntung, petugas kereta di jadwal berikutnya tak keberatan membawa mereka ke Erfurt. Meski begitu, tetap saja jadwal perjalanan mereka berantakan. 

Kereta berikutnya menuju Ilmenau melalui Arnstadt sudah berangkat 15 menit lalu. Si istri lalu mulai mengecek telpon genggamnya. Ia mengecek ongkos taxi dari Erfurt ke Ilmenau. Lumayan mahal, 70 Euro (sekitar Rp1 juta) untuk jarak sejauh 45 km. 

Nadin lantas memberi saran untuk membeli tiket kereta api melalui aplikasi DB (Deutche Bahn) --di Indonesia PT KAI Kereta Api Indonesia (KAI). Harganya 9 Euro (sekitar Rp140.000). 

Transportasi Publik di Jerman

Tiket ini berlaku sejak tanggal 1 Juni selama tiga bulan. Karcis bertitel 9 for 90 ini valid untuk berkunjung ke seluruh kota di Jerman. Selain kereta api, tiket bisa digunakan menumpang trem dan bus. 

Sungguh murah. Kebijakan meluncurkan tiket transportasi murah itu disetujui Parlemen Jerman akhir Mei silam. Tak lain, kebijakan ini diterbitkan guna merespon dampak invasi Rusia ke Ukraina yang mengakibatkan melambungnya harga bahan bakar. 

Paket kebijakan ini juga bertujuan mengurangi konsumsi bahan bakar dan mempromosikan perjalanan menggunakan tranportasi publik yang ramah lingkungan. 

Sebelum perang berkecamuk, ketergantungan Jerman terhadap pasokan energi dari Rusia mencapai 15%. Perusahaan energi multinasional asal Rusia, Gazprom dan Rosneft, adalah pemain kunci dalam industri energi di Eropa. 

Sejumlah kesepakatan energi antara Rusia dan Jerman lama dilihat sebagai bagian dari kebijakan Jerman untuk menjaga hubungan damai melalui kerja sama ekonomi dengan pemerintahan Vladimir Putin.

Namun, kini hubungan damai ini bisa dibilang sudah retak. Pada awal April, pemerintah Jerman mengambil langkah yang belum pernah diambil sebelumnya yakni mengambil alih sementara menajemen anak perusahaan Gazprom di Jerman.

Transportasi Publik di Jerman

Di industri minyak mentah, korporasi dari Negeri Tirai Besi, Rosneft, menguasai seperempat dari semua impor minyak mentah Jerman. Rosneft juga memegang 24 dan hampir 29% saham di dua kilang besar Miro dan Bayernoil di selatan Jerman.

“Setiap orang yang menggunakan transportasi publik berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan negara kita dari enerji asal Rusia dan mendekatkan kita ke keseimbangan iklim,” ujar Menteri Transportasi Jerman Volker Wissing seperti dikutip DW, awal Juni lalu. Negeri dengan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa menyediakan dana 2,5 miliar Euro untuk membiayai program tersebut.

“Program ini dalam jangka panjang akan mendesak orang menggunakan transportasi publik ketimbang berkendaraan pribadi, “ cetus Jon Worth, seorang pengamat transportasi.

 

Penulis: Andi Reza Rohadian

Komisaris PT Tren Media Berjejaring

Berita Terkait