The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Aliran Modal Asing ke Indonesia Diprediksi Makin Deras

29 Juli 2021 18:00 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed). / Pixabay

JAKARTA – Keputusan The Fed menahan suku bunga acuan di level 0%-0,25% memberikan sentimen positif terhadap iklim investasi di Indonesia. Masih belum lepasnya bank sentral Amerika Serikat (AS) dalam memberikan stimulus membuat ekspektasi investor terhadap emerging market, termasuk Indonesia, semakin meningkat.

Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai sinyal tappering off yang masih jauh menjadikan realisasi investasi di dalam negeri semakin moncer. Dengan kondisi ini, Piter mengatakan besar kemungkinan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memenuhi target investasi Rp900 triliun pada 2021.

“Keputusan The Fed ini adalah dalam rangka menjaga perekonomian Amerika yg kembali dilanda ketidakpastian akibat kembali meningkatnya kasus COVID-19. Menurunnya kekhawatiran pasar global akan berdampak positif terhadap aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia,” ujar Piter saat dihubungi Trenasia.com, Kamis, 29 Juli 2021.

Seperti diketahui, BKPM mencatat realisasi investasi pada semester I-2021 ini menembus Rp442,8 triliun. Realisasi pada paruh pertama tahun ii setara dengan 49,2% dari target.

Momentum ini, kata Piter, mesti dicermati dengan baik oleh Bahlil Lahadalia sebagai aktor utama yang bertanggung jawab atas investasi di dalam negeri. Piter memprediksi setidaknya aliran modal asing bakal semakin deras pada penghujung tahun ini.

Sebelumnya, Gubernur The Fed Jerome Powell mengumumkan tapering off masih belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Penyebabnya tidak lain adalah ketidakpastian pasar tenaga kerja akibat pandemi COVID-19.

Melansir Bloomberg, The Fed bakal mempertahankan alokasi pembelian obligasi sebesar US$120 miliar per bulan. Alokasi ini diperlukan untuk menjaga angka inflasi serta menciptakan pasar tenaga kerja baru di Negeri Paman Sam.

Amerika Serikat sempat mencatatkan angka inflasi tinggi sebesar 5,4% pada Juni 2021. Angka inflasi itu tertinggi sejak 13 tahun terakhir. Meski begitu, kebangkitan daya beli masyarakat di Amerika Serikat diprediksi tidak akan bertahan lama.

Seiring adanya lonjakan kasus COVID-19, angka inflasi di Amerika bakal mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi sinyal lain yang memperkuat tapering off oleh The Fed tidak akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

“Kita lihat ada kenaikan kasus COVID-19 di Amerika dan ini membuat inflasi di sana yang sempat tinggi diprediksikan tidak akan lama,” ucap Head of Equity Trading MNC Sekuritas Frankie Prasetio dalam diskusi virtual, Rabu, 28 Juli 2021.

Selama sepekan lalu, Amerika Serikat mencatatkan jumlah kasus COVID-19 yang tinggi. Berdasarkan data Worldometer, jumlah kasus COVID-19 di Negeri Paman Sam selama sepekan lalu mencapai 368.252 kasus. Angka itu bahkan melebihi Indonesia dengan 289.029 kasus dan India 266.944. 

Berita Terkait