The Fed Kurangi Pembelian Obligasi Bikin Rupiah Diramal Melemah

19 Agustus 2021 09:19 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 195 poin atau 1,33 persen ke level Rp14.415 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,039 poin atau 0,04 persen ke level 97,869 pada pukul 14.53 WIB. New Normal yang akan diberlakukan secara bertahap dianggap menjadi sentimen positif terhadap pergerakan pasar saat ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka stagnan di level Rp14.372,50. Analisis memprediksi mata uang rupiah bakal mengalami tekanan pada hari ini akibat rapat yang digelar bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) pada dini hari tadi waktu Indonesia.

Analisis Pasar Uang Ariston Tjendra menyebut pasar mengekspektasikan adanya pengurangan stimulus The Fed untuk menopang perekonomian Negeri Paman Sam. Hal ini tampak dari keputusan The Fed untuk mengurangi pembelian obligasi dalam beberapa waktu terakhir.

“Setelah notulen rapat kebijakan moneter the Fed dirilis dinihari tadi, dolar AS terlihat menguat terhadap mata uang utama dunia dan mata uang regional.  Ini artinya likuiditas dollar mulai ditarik dari pasar keuangan dan bisa mendorong penguatan dollar AS,” ucap Aris kepada Trenasia.com, Kamis, 19 Agustus 2021.

Dirinya menyebut rupiah berpotensi mengalami pelemahan ke level Rp14.400. Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap penyebaran kasus COVID-19 varian delta yang belum mereda di Indonesia.

“Tekanan terhadap rupiah juga bisa dari kekhawatiran pasar terhadap kenaikan kasus COVID-19 di dunia akibat varian delta yang kurvanya belum ada tanda penurunan,” ucap Aris.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mencatat ada tambahan 15,768 kasus positif harian pada Rabu, 18 Agustus 2021. Secara kumulatif, ada 3,9 juta orang yang telah terpapar COVID-19 di Indonesia sejak pandemi menyebar pada 2 Maret 2020.

Meski begitu, tren surplus neraca perdagangan diprediksi Aris bakal menahan nilai mata uang rupiah agar tidak tertekan terlalu dalam. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat  surplus neraca perdagangan pada bulan Juli 2021 sebesar US$2,59 miliar.

“Surplus neraca perdagangan RI bulan Juli yang di atas US$2 miliar mungkin bisa menahan pelemahan nilai tukar rupiah hari ini. Dengan support ini, rupiah bisa tertahan di Rp14.360 per dolar AS,” katanya.

Berita Terkait