The Fed Sulit Tapering Off Akibat Lonjakan Kasus COVID-19, Pasar Obligasi Pemerintah Indonesia Semakin Diuntungkan

28 Juli 2021 12:00 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Foto: Ismail Pohan/TreAsia

JAKARTA Head of Equity Trading MNC Sekuritas Frankie Prasetio menyebut lonjakan kasus COVID-19 di Amerika Serikat (AS) akan menahan The Fed untuk melakukan tapering off.  Menurutnya, stimulus bank sentral AS tersebut masih diperlukan untuk menopang sektor kesehatan yang terdampak kasus COVID-19.

Hal ini semakin menurunkan sinyal tapering off usai adanya pengumuman inflasi di AS yang menyentuh 5,4% pada Juni 2021. Angka inflasi itu merupakan rekor tertinggi yang dicatatkan Amerika sejak 13 tahun terakhir.

“Kita lihat ada kenaikan kasus COVID-19 di Amerika dan ini membuat inflasi di sana yang sempat tinggi diprediksikan tidak akan lama,” ucap Frankie dalam diskusi virtual, Rabu, 28 Juli 2021.

Kepala Ekonom Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menilai kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam itu berimplikasi positif terhadap pasar obligasi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini tentu menguntungkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk mengumpulkan dana dari Surat Berharga Negara (SBN) sebagai sumber dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021.

“Kondisi di AS ini tentu saja mengurangi ekspektasi pasar dan ini bisa menjadi sentimen positif bagi obligasi pemerintah,” ujar Josua kepada Trenasia.com, Rabu 28 Juli 2021.

Faktor ini lah yang menjadi pemantik lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara pada Selasa, 27 Juli 2021 kembali diminati investor. Pada lelang kemarin, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu mencatat total penawaran mencapai Rp56,69 triliun.

Jumlah itu lebih tinggi Rp5,58 triliun dibandingkan lelang SBSN sebelumnya. DJPRR mencatat dari enam seri yang ditawarkan, seri dengan penawaran terbanyak jatuh kepada PBS031 sebesar Rp14,18 triliun.

Kemudian, disusul seri PBS032 sebesar Rp13,2 triliun, PBS029 Rp9,3 triliun, PBS028 Rp8,4 triliun, SPNS14012022 Rp6,1 triliun dan PBS030 Rp5,2 triliun. Kemenkeu secara keseluruhan mengantongi Rp13,1 triliun dari lelang SBSN tersebut. Capaian ini melebihi target indikatif DJPPR yang sebesar Rp12 triliun.

Berita Terkait