Gokil! Saham IPO Bukalapak Oversubscribed Tembus Rp86,1 Triliun

23 Juli 2021 04:01 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Sukirno

Warga mengakses logo Bukalapak melalui gawai dengan latar grafik pergerakan IHSG di Jakarta, Kamis, 24 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Unicorn e-commerce lokal, PT Bukalapak.com Tbk dikabarkan telah menerima pesanan lebih dari US$6 miliar atau setara dengan Rp86,1 triliun (asumsi kurs Rp14.350 per dolar AS) pada masa penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Dikutip dari Reuters, Kamis, 22 Juli 2021, Bukalapak hanya menargetkan penghimpunan dana sebanyak US$1,5 miliar atau sekitar Rp22 triliun melalui IPO. Sejatinya, angka itu melonjak beberapa kali akibatkan banyaknya “desakan” dari para investor terdahulu Bukalapak untuk meningkatkan jumlah pendanaan.

“Sampai beberapa bulan yang lalu, Bukalapak hanya ingin mengumpulkan US$300 juta. Itu tumbuh menjadi US$800 juta dan kemudian menjadi US$1,5 miliar minggu lalu,” kata sumber anonim kepada Reuters.

Padahal, nilai perusahaan sendiri saat ini ditaksir hanya sekitar US$6 miliar. Selain itu, Bukalapak juga dikabarkan telah menetapkan harga pelaksanaan pada batas atas dengan nominal Rp750 – Rp850 per lembar. 

“Bukalapak menolak berkomentar terkait hal tersebut,” seperti dilaporkan Reuters.

Aksi korporasi Bukalapak telah menarik para investor. Pasalnya, pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan memiliki nilai mencapai US$40 miliar. Tingginya permintaan di tengah kondisi pandemi turut menjadi keuntungan bagi proses IPO tersebut.

Perusahaan e-commerce terbesar keempat di Tanah Air ini disokong oleh berbagai investor kakap dari dalam dan luar negeri. Misalnya saja perusahaan investasi pelat merah asal Singapura, GIC, Microsoft, API (Hong Kong) Investment Limited, dan Archipelago Investment Pte. Ltd.

Kendati begitu, pemegang mayoritas pemegang saham Bukalapak masih dikuasai oleh investor domestik. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) atau Emtek Grup melalui anak usahanya, PT Kreatif Media Karya tercatat sebagai pemegang saham Bukalapak paling besar, dengan persentase 23,93% setelah IPO.

Sementara itu, para pendiri (founder dan co-founder) Bukalapak, seperti Achmad Zaky Syaifudin akan memiliki jatah sebanyak 4,32%. Muhamad Fajrin Rasyid sekitar 2,64%, dan Nugroho Herucahyono sebesar 2,08%.

Dalam proses IPO, Bukalapak menawarkan maksimum 25.765.504.851 lembar saham biasa. Penawaran itu setara dengan 25% saham baru. Saham itu akan dicatatkan di BEI dengan kode saham (ticker) BUKA.

Bukalapak sendiri memiliki bisnis all commerce yang berfokus pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal ini untuk menandingi bisnis para pesaingnya yang lebih besar, seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada. 

Berita Terkait