ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN, Indonesia Jadi 4,1 Persen

21 Juli 2021 15:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Kegiatan Ekspor dan Impor/ Sumber: Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

JAKARTA – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,5% year on year (yoy) menjadi 4,1% yoy. ADB meninjau aktivitas usaha yang tertahan akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 dan kasus COVID-19 varian delta menekan perekonomian Indonesia.

Dalam laporan bertajuk Asian Development Outlook, ADB menyebut negara yang ekonominya berpijak pada konsumsi rumah tangga memang lebih rawan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Tidak hanya Indonesia, pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini juga terjadi pada sejumlah negara-negara lain di Asia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand disunat dari 3% yoy menjadi 2% yoy, hingga Malaysia dari 6% yoy menjadi 5,5% yoy.

ADB juga meramal negara yang sejak awal mampu mengendalikan kasus COVID-19 seperti Vietnam bakal tetap terdampak secara ekonomi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam diubah ADB dari 6,7% yoy menjadi 5,8% yoy. Sementara, proyeksi pertumbuhan ekonomi Filipina tetap berada di angka 4,5%. 

Di sisi lain, ADB melihat ekonomi Singapura mengalami pemulihan yang lebih cepat dari ekspektasi awal sehingga menaikkan proyeksi pertumbuhannya dari 6% yoy menjadi 6,3%.

ADB menilai pulihnya investasi serta industri menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Singapura yang meleset dengan cepat. Buktinya, ekonomi Singapura mampu tumbuh hingga 14,3% yoy pada kuartal II-2021.

Sejumlah koreksi tersebut membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia secara keseluruhan turun dari 7,3% yoy menjadi 7,2% yoy.  Serupa, pertumbuhan ekonomi di Asia Selatan dikoreksi dari 9,5% menjadi 8,9% yoy.

Berbanding terbalik, bangkitnya ekonomi di Asia Timur membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi naik dari 7,4% menjadi 7,5%. Hal itu juga terjadi di Asia Tengah dengan revisi pertumbuhan ekonomi yang naik tipis dari 3,4% yoy menjadi 3,6% yoy.

Dihantam COVID-19

Sebelumnya, Bank asal Amerika Serikat Goldman Sachs juga revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai imbas dari ledakan kasus COVID-19. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dikoreksi dari 5% year on year (yoy) menjadi hanya 3,4% yoy.

Dalam laporannya, Goldman Sachs mengungkapkan penyebaran varian baru delta di Indonesia yang tidak terkendali memberikan tekanan bagi perekonomian Indonesia. Roda perekonomian pada paruh kedua 2021 pun diproyeksikan berjalan pincang akibat terbatasnya ruang gerak ekonomi karena pengetatan pembatasan mobilitas masyarakat.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 dari 4,1%-5,1% yoy menjadi 3,8% yoy. Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi juga dilakukan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dari 4,3%-5,3% yoy menjadi 3,7%-4,5% yoy.

Direktur Program Institute For Development of Economic and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan lonjakan kasus COVID-19. Menurut Esther, sektor kesehatan harus pulih terlebih dahulu agar ekonomi bisa bangkit secara optimal.

“Alokasi paling besar PEN berasal dari perlindungan sosial, sekitar 33% di pada 2020 dan sektor kesehatan hanya sedikit. Sektor ini yang kini harusnya digenjot, perlu menjadi fokus untuk pemerintah, jangan hanya terpusat pada ekonomi,” kata Eshter dalam diskusi virtual belum lama ini.

Esther menyebut pemerintah kini telah menarik dana secara agresif dalam bentuk utang untuk membiayai COVID-19. Tantangannya berikutnya, kata Esther, adalah memastikan belanja pemerintah mampu memberikan efek terhadap sektor kesehatan serta menstimulasi dunia usaha.

“Uangnya sudah ada, kita tahu pemerintah telah menarik utang yang paling banyak dari Surat Berharga Negara (SBN). Selanjutnya adalah uang yang sudah itu harus bisa memberikan multiplier effect terhadap kondisi ekonomi dan kesehatan saat ini,” ucap Esther.

Dalam risetnya, Esther mengaku kecil kemungkinan Indonesia bakal mencapai pertumbuhan 5% pada 2021. Bahkan tanpa COVID-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015-2019 hanya mampu bertengger di level maksimal 5% saja.

“Ruang fiskalnya terbatas. Artinya anggaran belanja pemerintah terbatas, apalagi belanja pemerintah pusat untuk pembayaran utang meningkat hingga 19%. Ruang fiskal yang terbatas ini, dana PEN menjadi lebih terbatas dan ini harus dimaksimalkan untuk sektor kesehatan,” ujar Esther.

Kabar baiknya, laporan terbaru ADB masih menaruh optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5% yoy pada 2022. Tantangannya, pemerintah mesti mengatasi penyebaran virus COVID-19 sekaligus mengejar target kekebalan kelompok atau herd immunity dari vaksinasi.

Berita Terkait