Tersandung Kasus Kekerasan Seksual, Alibaba Pecat Manajer Logistiknya

09 Agustus 2021 11:02 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Pandemi Covid-19 masih membuat Alibaba Group tumbuh positif di 2020.

JAKARTA -- Alibaba Group Holding memecat  manajer logistik, Li Yonghe karena dituduh melakukan pemerkosaan terhadap seorang karyawan wanita. Berdasarkan keterangan, kejadian tersebut berlangsung di sebuah klub malam pekan lalu. Kasus tersebut kemudian viral setelah pengakuan korban terekspos ke media sosial.

Li Yonghe, yang ditunjuk bulan lalu untuk memimpin divisi baru yang mengawasi sebagian besar bisnis non-ritel Alibaba mulai dari pengiriman makanan hingga perjalanan tak lagi berada di Alibaba. Ini kemudian disusul oleh pengunduran diri kepala sumber daya manusia perusahaan karena terbukti bersalah dalam kasus itu.

Yonghe dan beberapa eksekutif diduga terlibat dalam penganiayaan terhadap klien eksternal Alibaba dalam sebuah acara pesta minum-minuman di klub malam di Kota Jinan.

Chief Executive Officer Alibaba Daniel Zhang dalam sebuah memo internal yang dilihat Bloomberg, Minggu, 8 Agustus 2021, mengatakan tuduhan penyerangan seksual pertama kali dilaporkan oleh karyawan pada 2 Agustus 2021 namun menemukan kendala sistemik dengan mekanisme perusahaan.

Dia menyesalkan perbuatan anak buahnya dan berjanji untuk meningkatkan perlindungan bagi wanita di seluruh perusahaan sambil mengatasi hambatan-hambatan untuk menanganinya.

"Di balik keprihatinan mendalam semua orang tentang insiden itu bukan hanya simpati dan kepedulian terhadap rekan yang trauma, tetapi juga kesedihan yang luar biasa atas tantangan dalam budaya Alibaba," tulis Zhang, mengutip Straitstimes.com, Senin, 9 Agustus 2021.

"Insiden ini merupakan penghinaan bagi semua aliren (julukan untuk pegawai Alibaba). Kita harus membangun kembali, dan kita harus berubah," imbuhnya.

Belum dapat dipastikan bagaimana kepergian pelaku kekerasan akan memengaruhi bisnis Alibaba saat ini dan di masa mendatang. Namun banyak komentar mengarah pada kegagalan Alibaba untuk bertindak sampai tuduhan itu dipublikasikan.

Alibaba kini telah menjadi simbol pelanggaran profil tertinggi yang dianggap lazim di seluruh bisnis China dan di perusahaan teknologi, yang berakar pada lingkungan yang keras yang sering memprioritaskan keuntungan dan pencapaian daripada budaya.

"Pertumbuhan Alibaba membutuhkan saluran bakat yang kuat di berbagai unit bisnis. Insiden ini dapat menghalangi lulusan wanita yang menjanjikan dan manajer wanita berkualifikasi tinggi untuk bergabung dengan Alibaba," ujar Michael Norris, seorang analis dari konsultan AgencyChina yang berbasis di Shanghai.

Polisi saat ini tengah menangani masalah tersebut berdasarkan akun yang diposting oleh karyawan wanita atau korban tersebut secara online setelah dia pertama kali melaporkan insiden tersebut secara internal.

Korban mengatakan bosnya, Yonghe, masuk ke kamar hotelnya dan memperkosanya ketika dia mabuk setelah minum-minum semalaman dengan klien di kota Jinan.

Terdakwa telah mengakui bahwa dia melakukan tindakan intim dengan karyawan wanita dan petugas penegak hukum akan menentukan apakah dia melanggar hukum.

Secara terpisah, Supermarket Jinan Hualian merilis pernyataan di akun WeChat resminya, mengatakan perusahaan akan sepenuhnya bekerja sama dengan polisi dalam kasus dugaan kekerasan seksual tersebut.

Zhang kembali menegaskan komitmen untuk melakukan program pelatihan di seluruh perusahaan tentang perlindungan hak-hak karyawan, termasuk pelecehan anti-seksual. Hal itu untuk membentuk saluran pelaporan dan mempercepat pembentukan kode etik untuk mengatasi masalah tersebut.

"Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk merefleksikan dan membangun kembali pemikiran dan tindakan kita sepenuhnya. Perubahan hanya mungkin jika setiap orang mengambil tindakan individu, tetapi harus dimulai dari atas. Itu dimulai dari saya," ungkap Zhang.*

Berita Terkait