Babak Belur Terpukul Pandemi, Lion Air Rumahkan 8.000 Karyawan

01 Agustus 2021 10:39 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Puluhan pekerja outsourcing maskapai penerbangan Lion Air melakukan aksi unjuk rasa di Lion Air Tower, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin, 13 Juli 2020. Dalam aksinya mereka menuntut kepada manajemen Lion Air untuk segera membayarkan tiga bulan tunggakan iuran BPJS Kesehatan, sisa THR yang baru dibayarkan sebesar Rp1,5 juta dari Rp4,1 juta, dan meminta Lion Air membayarkan pesangon para pekerja yang diberhentikan secara sepihak disaat pandemi COVID-19. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA -- Maskapai penerbangan PT Lion Mentari Airlines atau Lion Air Group memutuskan untuk merumahkan 8.000 karyawannya akibat terpukul pandemi COVID-19. Jumlah karyawan ini sekitar 35% dari total 23.000 karyawan Lion Air.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro, mengatakan keputusan merumahkan karyawan diambil setelah melewati berbagai pertimbangan substansial dengan melihat kinerja keuangan perusahaan selama ditampar pandemi COVID-19. Keputusan terebut, kata dia, berlaku sampai pemberitahuan lebih lanjut dari perusahaan.

"Dalam jangka waktu yang diperlukan, Lion Air Group mengumumkan pengurangan tenaga kerja dengan merumahkan karyawan (status tidak Pemutusan Hubungan Kerja/ PHK) menurut beban kerja (load) di unit masing-masing yaitu kurang lebih prosentase 25%-35% karyawan dari 23.000 karyawan," ujar Danang dalam keterangan pers kepada TrenAsia.com, Sabtu, 31 Juli 2021.

Dia menjelaskan, kondisi pasar dan jumlah penumpang yang mengalami penurunan, telah mengakibatkan jumlah frekuensi terbang atau produksi layanan penerbangan maskapai juga ikut turun.

Konsekuensinya, jumlah produksi pekerjaan dengan sumber daya manusia tidak sebanding yang mendorong tetap tingginya beban operasional maskapai.

"Keputusan berat tersebut diambil bertujuan utama sebagai konsentrasi efektif dan efisien, sejalan mempertahankan bisnis yang berkesinambungan dan perusahaan tetap terjaga, merampingkan operasi perusahaan, mengurangi pengeluaran dan merestrukturisasi organisasi di tengah kondisi operasional penerbangan yang belum kembali normal dari dampak pandemi COVID-19," papar Danang.

Danang menuturkan, selama karyawan yang berstatus dirumahkan, Lion Air Group akan berusaha membantu memberikan dukungan biaya hidup sesuai kemampuan perusahaan.

Selain itu, perusahaan juga akan tetap mengadakan pelatihan secara virtual sesuai dengan bagian (unit) masing-masing.

"Lion Air Group sangat menghargai seluruh karyawan, berterima kasih sebesar-besarnya atas dukungan, kinerja, dedikasi, pencapaian di bidangnya masing-masing, keterlibatan selama ini, selalu berpandangan luas selama melewati situasi ini guna mendukung operasional penerbangan," ucap Danang.

Dia berharap pandemi COVID-19 segera berakhir, sehingga operasional dan layanan penerbangan normal kembali.

Untuk menjaga kontinuitas perusahaan, Lion Air Group tetap beroperasi secara bertahap, rata-rata mengoperasikan 10%-15% dari kapasitas normal sebelumnya (sebelum pandemi COVID-19) yakni rerata 1.400 penerbangan per hari.

Perusahaan, kata dia, senantiasa mendukung program pemerintah untuk percepatan vaksinasi dengan melaksanakan untuk seluruh karyawan, awak pesawat (air crew), teknisi, serta bagi calon penumpang dan penumpang Lion Air Group dan mengakomodir masyarakat umum.

Selanjutnya, perusahaan masih terus memonitor, mengumpulkan data dan informasi, mempelajari situasi yang terjadi seiring mempersiapkan rancangan penyusunan dan langkah lainnya yang akan diambil guna tetap menjaga kelangsungan perusahaan sekaligus meminimalisir beban yang ditanggung selama pandemi COVID-19.

"Lion Air Group juga tengah mengeksplorasi peluang, serta memiliki keseriusan pandangan bisnis kedepan bahwa nantinya pasar penerbangan ini tetap masih ada dan akan menjadi sentra pertumbuhan kuat," ungkap Danang.*

Berita Terkait