Bukan Karena Pandemi, Ritel Grosir Hypermarket dan Supermarket Sudah Babak Belur Sejak 2019

23 Juli 2021 08:03 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Nampak pengunjung tengah berbelanja di salah satu gerai supermarket Giant yang nampak mulai kosong stok barangnya di kawasan Bintaro Jakarta Selatan, Senin 19 Juli 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Keputusan PT Hero Supermarket Tbk (HERO) menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021 seperti menunjukkan ada yang salah dengan ritel grosir berformat supermarket maupun hypermarket.

Hal ini pun terbukti dari data kerja sama antara Nielsen dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Penjualan fast-moving consumer goods (FMCG) lewat hypermarket/supermarket sudah mencatatkan angka negatif sejak 2019.

Ketua Umum Aprindo Roy N. Mendey mengatakan hypermarket dan supermarket terpuruk 4,2% pada 2019 dan semakin merosot jadi 10,1% pada 2020. Hingga kuartal I-2021, keadaannya semakin parah dengan penurunan 14,5%.

“Kenapa menurun? Karena memang hypermarket/supermarket itu kan perlu suatu effort untuk masyarakat atau konsumen datang,” ujar Roy dalam konferensi pers, Kamis, 22 Juli 2021.

Sebaliknya, minimarket ada di depan rumah, ada di depan kompleks, cukup berjalan kaki dan lain-lain. Roy mengatakan, hal ini membuat format minimarket lebih mudah dijangkau bagi masyarakat atau konsumen.

Hal ini pun tercermin dari pertumbuhan minimarket yang masih positif pada 2019 dan 2020. Minimarket berhasil tumbuh 12,3% pada 2019 dan naik 4,8% pada 2020. Sayangnya, bisnis minimarket jadi negatif 4,2% pada kuartal I-2021.

Roy mengatakan kontraksi tersebut disebabkan adanya pembatasan mobilitas masyarakat serta perilaku konsumsi yang berubah selama pandemi COVID-19.

Minimarket juga menyampaikan basket size-nya semakin kecil. Dulu pada saat belanja ke minimarket belanja rata-rata Rp100.000, katakan lah seperti itu,” kata Roy.

Sekarang, rata-rata setiap transaksi di minimarket turun jadi Rp20.000-Rp30.000. Ini terjadi karena masyarakat cenderung membeli kebutuhan-kebutuhan dasar dan kesehatan di minimarket semasa pandemi COVID-19.

“Tidak lagi ada impulse buying. Kalau dulu kita belanja di ritel sebelum ada pandemi, ada diskon buy 1 get 1 pasti kita beli. Sekarang jangankan lihat yang diskon-diskon itu, kita selalu tiada hari tanpa diskon karena promosi (selama pandemi),” jelas Roy.

Perubahan perilaku konsumsi masyarakat kini membuat diskon-diskon itu tidak lagi manjur. Roy bercerita konsumen cenderung langsung mencari sayur-mayur, beras, daging, ikan, dan lain-lain lalu langsung bayar.

Tutupnya Giant Supermarket

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) resmi akan menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021. Selain itu, beberapa gerai juga akan diubah jadi lini bisnis usaha HERO lainnya, Hero Supermarket dan IKEA.

“Perubahan strategi ini merupakan respons cepat dan tepat perseroan yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar,” ujar Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo beberapa waktu lalu

Hadrianus mengatakan perubahan pasar ini terlebih akibat beralihnya konsumen Indonesia dari format hypermarket dalam beberapa tahun akhir. Menurutnya, hal ini juga tren yang terlihat di pasar global lainnya.

Setelah menutup seluruh gerai tersebut, HERO berencana mengubah lima gerai Giant menjadi IKEA. Sementara itu, belum ada kepastian mengenai berapa gerai Giant yang diubah menjadi Hero Supermarket.

Pembukaan lima gerai IKEA yang akan menggantikan gerai Giant ini akan menambah deretan IKEA di Indonesia yang saat ini sudah ada 3 gerai. Pada kuartal I-2021, HERO telah membuka satu IKEA baru di Bandung.

Pada tahun ini, HERO berharap dapat menambah satu lagi gerai IKEA. Gerai keempat ini akan dibuka di Jakarta Garden City dan diharapkan dapat selesai akhir tahun ini.

Berita Terkait