Ternyata, Mendengarkan Musik Bisa Atasi Stres karena Pandemi

10 Agustus 2021 21:17 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

JAKARTA - Periode panjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah menimbulkan perasaan putus asa yang bisa berujung pada stres. Hal itu karena banyak orang tertekan karena tidak bisa melakukan aktivitas di luar dan hanya mengurung di rumah tanpa pekerjaan.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti ternyata sudah melakukan riset untuk melihat pengaruh musik pada otak dan tubuh manusia. Dari temuan mereka, terbukti bahwa musik dapat memicu perasaan bahagia, bisa digunakan sebagai terapi dan dapat memperlambat detak jantung.

Temuan itu agaknya relevan dengan situasi saat ini dimana banyak orang mulai stres karena banyak hal. Mulai dari kehilangan pekerjaan, dirumahkan, kehilangan anggota keluarga, dan segudang perasaan putus asa yang bertumpuk tiap harinya.

Faktor positif musik memang tidak terbantahkan. Telah terbukti bahwa musik melepaskan endorfin dan dapat memiliki efek yang sama pada kesenangan manusia seperti aktivitas seksual, makanan, obat-obatan, atau olahraga. Bahkan telah terbukti membantu membentuk antibodi, sehingga memperkuat sistem kekebalan tubuh di masa PPKM.

Paling anyar, Institut Max Planck Jerman untuk Estetika Empiris menerbitkan sebuah penelitian yang disebut Viral Tunes, yang meneliti perilaku mendengarkan manusia selama terpapar pandemi COVID-19.

"Selama penguncian, bukan musiknya tetapi interaksi sadar dengan musik yang sangat penting dalam mengatasi situasi ini," ujar Melanie Wald-Fuhrmann, Direktur Departemen Musik Institut Max Planck, kepada Deutsche Welle belum lama ini.

"Banyak responden mendengarkan musik sendirian dan, tidak seperti sebelumnya, tidak melakukan hal lain di samping," imbuhnya.

Para peneliti melakukan survei 5.000 peserta dari enam negara di tiga benua selama penguncian COVID-19 pertama dari April hingga Mei 2020. Responden dari Jerman, Prancis, Inggris, Italia, India, dan Amerika Serikat tersebut menjawab pertanyaan secara online tentang eksposur mereka tentang musik selama krisis.

Lebih dari separuh responden mengatakan mereka mendengarkan musik untuk mengatasi stres emosional dan sosial. Dalam situasi ekstrem, mereka biasanya beralih ke orang-orang tersayang, namun itu tidak mungkin dilakukan selama penguncian.

Menurut peneliti, musik, dengan kualitasnya yang menenangkan, berkontribusi untuk mengisi kekosongan emosional orang.

"Seringkali dalam lirik, panggilan langsung diucapkan melalui 'Anda atau 'kami', yang membuat pendengar merasa disertakan sebagai individu," ujar peneliti.

Dampak COVID-19

Dengan adanya pembatasan aktivitas, isolasi sosial, ancaman pengangguran, sekolah atau kuliah dari rumah, dan kerja-kerja lainnya tentu membawa dampak buruk terhadap ketahanan emosional seseorang.

Sejumlah penelitian di seluruh dunia telah menunjukkan bahwa pandemi berdampak pada orang-orang secara emosional dan psikologis dan memperburuk gejala depresi.

Di Jerman, asuransi kesehatan telah mencatat peningkatan jumlah orang yang mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.

Para peneliti melihat bahwa ada rasa kebersamaan yang menggembirakan telah diciptakan oleh apa yang disebut studi mereka sebagai "coronamusic."

Banyak grup band terkenal seperti band rock Jerman, Die rzte, telah mengacu pada situasi pandemi dalam karya-karya mereka.

Ribuan orang biasa juga telah memanfaatkan kebutuhan selama pandemi dengan menulis ulang lagu dan membuat video yang melibatkan seluruh keluarga.

"Melalui (musik) ini, kami mengenali diri kami sendiri dan situasi kami: Ini jujur, tanpa pernis dan membantu Anda mengidentifikasi secara sosial bahkan dalam isolasi," jelas Wald-Fuhrmann.

Namun, dia menyatakan lagu-lagu itu hanya akan berpengaruh jika dibuat dengan baik, "meyakinkan kita sebagai pertunjukan yang estetis-kreatif."

Jacob Jolij, seorang ahli saraf di Departemen Psikologi Eksperimental di Universitas Groningen, mempelajari pengaruh tempo, lirik positif, dan pilihan kunci mayor atau minor pada pendengar pada 2015

Dia menemukan bahwa 45% responden menggunakan musik untuk mengangkat suasana hati mereka, dan sebanyak 77% menggunakan musik untuk motivasi.

Hasil penelitian itu adalah daftar putar pengangkat suasana hati yang tidak resmi tetapi didukung secara ilmiah.

Menurut temuan itu, tembang Queen berjudul Don't Stop Me Now adalah nomor satu yang tak terbantahkan di tangga lagu untuk menenangkan suasana hati.

Kemudian diikuti oleh hits termasuk Dancing Queen dari ABBA, Good Vibrations milik the Beach Boys, Uptown Girl milik Billy Joel, dan Girls Just Wanna Have Fun dari Cindy Lauper.

Di Indonesia, hampir belum ada karya musik nasional yang bisa menggugah perasaan kesenangan seseorang selama periode ini. Belum banyak musikus Indonesia yang concern pada penciptaan lagu-lagu yang mencerminkan situasi pandemi.

Beberapa lagu justru lahir dari musikus berbasis agama, baik itu Islam atau Kristen.

Namun, bilamana Anda ingin menenangkan suasan gundah dan stres akibat PPKM yang belum jelas ujungnya, lagu-lagu dari Queen, ABBA, Beach Boys dan lainnya bisa menjadi rujukan yang tepat.

Berita Terkait