Ternyata, Kesepakatan Trump dan Taliban Ini yang Membuat Afghanistan Jatuh

22 Agustus 2021 01:09 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Pasukan Amerika di Afghanistan/US Army

JAKARTA -- Afghanistan kembali jatuh ke tangan Taliban pekan lalu, Minggu, 15 Agustus 2021. Sebelum menguasai ibukota Kabul, para militan itu terlebih dahulu mencaplok beberapa provinsi. 

Perang telah berakhir dan kini gerakan nasionalis yang pernah berkuasa pada 1996-2001 itu kembali duduk di pucuk pimpinan negara itu.

Berkuasanya Taliban di Afghanistan tidak terjadi serta merta. Selama 20 tahun kelompok pemberontak itu berperang melawan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya di Barat. Korban berjatuhan di antara kedua pihak selama bertahun-tahun.

Tercatat sekitar 2.400 pasukan AS dan sekutu tewas dalam peperangan terpanjang yang pernah dilakukan AS. Sementara, secara keuangan, AS merugi hingga US$978 miliar setara Rp14.086 triliun.

AS menginvasi Afghanistan beberapa minggu setelah serangan 11 September 2001 di World Trade Center (WTC) New York oleh kelompok al-Qaeda yang berbasis di Afghanistan. 

Di pihak pasukan Afghanistan, terhitung sekitar 45.000 orang tewas dalam peperangan melawan Taliban sejak 2001.

Taliban perlahan menguasai wilayah Afghanistan setelah kesepakatan dengan pemimpin AS tahun lalu. Dengan kesepakatan itu, AS mulai mengurangi pasukannya sehingga Taliban mulai menduduki kota-kota di negara itu.

Lantas, seperti apa kesepakatan kedua belah pihak?

Isi Kesepakatan Trump-Taliban

Dilansir dari BBC, kesepakatan terjadi antara Presiden Donald Trump dengan pemimpin Taliban di Doha, Qatar, pada Februari 2020. Kedua pihak berkomitmen untuk penarikan pasukan AS dan sekutu (termasuk Inggris) dari Afghanistan pada Mei 2021.

Dalam kesepakatan itu, Taliban juga diwajibkan untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah kelompok-kelompok termasuk al-Qaeda yang mengancam keamanan AS dan sekutunya.

Setelah pemilihan November 2020, Presiden AS Joe Biden melanjutkan rencana penarikan tetapi dengan tanggal berakhir 31 Agustus.

Dalam kesepatakan itu, Presiden Trump mengatakan itu adalah "perjalanan panjang dan sulit" di Afghanistan. "Sudah waktunya setelah bertahun-tahun untuk membawa orang-orang kita kembali ke rumah," katanya.

Berbicara di Gedung Putih, Trump mengatakan Taliban telah lama berusaha mencapai kesepakatan dengan AS.

Dia mengatakan pasukan AS telah membunuh teroris di Afghanistan "dalam jumlah ribuan" dan sekarang "waktunya bagi orang lain untuk melakukan pekerjaan itu dan itu adalah Taliban dan bisa jadi negara-negara sekitarnya".

"Saya benar-benar percaya bahwa Taliban ingin melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa kita tidak membuang-buang waktu," tambah Trump. "Jika hal-hal buruk terjadi, kita akan kembali dengan kekuatan yang belum pernah dilihat siapa pun," katanya.

Kesepakatan di Doha ditandatangani oleh utusan khusus AS Zalmay Khalilzad dan kepala politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sebagai saksi.

Dalam pidatonya, Pompeo mendesak kelompok militan itu untuk "menepati janji Anda untuk memutuskan hubungan dengan al-Qaeda". Sementara, Baradar mengatakan dia berharap Afghanistan sekarang bisa keluar dari empat dekade konflik.

"Saya berharap dengan penarikan semua pasukan asing dari Afghanistan, bangsa Afghanistan di bawah rezim Islam akan lega dan memulai kehidupan baru yang sejahtera," katanya.

Dalam 135 hari pertama kesepakatan, AS akan mengurangi pasukannya di Afghanistan menjadi 8.600, dengan sekutu juga menarik pasukan mereka secara proporsional.

Langkah itu akan memungkinkan Presiden  Trump untuk menunjukkan bahwa ia telah membawa pulang pasukannya menjelang pemilihan presiden AS pada November 2020.

Kesepakatan itu juga menyediakan pertukaran tahanan. Sekitar 5.000 tahanan Taliban dan 1.000 tahanan pasukan keamanan Afghanistan akan dipertukarkan pada 10 Maret 2020, saat pembicaraan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan dimulai.

AS juga akan mencabut sanksi terhadap Taliban dan bekerja sama dengan PBB untuk mencabut sanksi terpisah terhadapnya.

Sementara, para pemimpin Taliban mengatakan mereka telah berubah sejak aturan keras mereka pada 1990-an masih membekas dalam ingatan banyak orang, dan sebagian besar dari wanita Afghanistan.

Sebelumnya, pada Desember 2018, para militan mengumumkan bahwa mereka akan bertemu dengan pejabat AS untuk mencoba menemukan "peta jalan menuju perdamaian".

Namun kelompok Islam garis keras terus menolak untuk mengadakan pembicaraan resmi dengan pemerintah Afghanistan, yang mereka anggap sebagai "boneka" Amerika.

Setelah sembilan putaran pembicaraan AS-Taliban di Qatar, kedua pihak tampaknya hampir mencapai kesepakatan.

Negosiator utama AS mengumumkan September 2019 bahwa AS akan menarik 5.400 tentara dari Afghanistan dalam waktu 20 minggu sebagai bagian dari kesepakatan yang "pada prinsipnya" disepakati dengan gerilyawan Taliban.

Beberapa hari kemudian, Trump mengatakan pembicaraan itu "mati", setelah kelompok itu membunuh seorang tentara AS. Namun dalam beberapa minggu kedua belah pihak melanjutkan diskusi di belakang layar.

Akhirnya, peta jalan perdamaian kedua belah pihak berlanjut secara terbuka di Doha untuk mengakhiri perang empat dekade itu.*

Berita Terkait