Ternyata, Baru 3 Persen Penduduk Usia Produktif Indonesia Jadi Investor Ritel

15 Agustus 2021 10:30 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Karyawan beraktivitas dengan latar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 31 Agustus 2020. Kinerja IHSG selama dua pekan terakhir langsung sirna setelah mencetak koreksi 108,17 atau 2,02 persen ke posisi 5.238,48 pada perdagangan hari ini, Senin (31/8/2020). Saham-saham berkapitalisasi jumbo berjatuhan dan menjadi sasaran jual investor asing. Net asell asing tercatat mencapai Rp1,79 triliun. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Bank Indonesia menyatakan jumlah investor ritel di Indonesia mencapai 5,6 juta hingga Juni 2021. Jumlah ini meningkat 125% jika dibandingkan dengan jumlah investor ritel pada 2019 yang hanya sebanyak 2,5 juta investor.

Meski begitu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut angka tersebut belum signifikan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk usia produktif di Indonesia.

“Apakah angka itu besar? Iya, kalau kita lihat dari perkembangan dari 2019 hingga 2021. Tapi apakah ini besar untuk Indonesia? Kurang besar,” katanya dalam webinar Literasi Keuangan Indonesia Terdepan, dikutip Minggu, 15 Agustus 2021.

Destry menjelaskan jumlah penduduk usia produktif di Indonesia (usia 15-64 tahun) mencapai191 juta jiwa jika dilihat dari peta demografi Indonesia. 

“Jadi kalau baru 5,6 juta penduduk Indonesia yang masuk sebagai investor ritel itu artinya baru 3% dari penduduk usia produktif yang memanfaatkan peluang investasi di Indonesia,” terangnya.

Mengutip laporan dari Statista Investment Behaviour Worldwide 2019 terkait dengan perilaku para generasi milenial, Destry memaparkan 57% generasi milenial di Hong Kong telah berinvestasi.

Begitu juga di beberapa negara lain seperti di Amerika Serikat 32%, di Australia 28%, di Inggris 24%, di Jerman 23%, dan di Perancis 18% telah melakukan investasi.

Destry memperhitungkan jika ada sekitar 6 juta investor ritel di Indonesia saat ini, bisa diperkirakan jumlah milenial di dalamnya ada setengah atau sekitar 3 juta investor.

“Berarti baru 3 juta dari 70 juta anak-anak milenial. Jadi baru sekitar 3%-an lebih sedikit. Angka ini masih di bawah dan peluang untuk tumbuh itu akan sangat besar sekali,” tuturnya.

Menurutnya, generasi milenial di Indonesia harus terus mendapatkan edukasi yang baik tentang investasi sehingga mereka terdorong untuk mau melakukannya sejak dini. Terlebih lagi sekarang ini cara berinvestasi sangat mudah.

Destry menyebut munculnya beragam aplikasi financial technology (fintech) yang menawarkan kemudahan berinvestasi sangat berpengaruh besar untuk mendorong minat generasi milenial yang telah akrab dengan teknologi.

Berita Terkait