Terkait Rights Issue Bank Nobu, Matahari (LPPF) Ngaku Tak Akan Jual Kepemilikan Sahamnya

10 September 2021 21:35 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Suasana pengunjung berbenja di Matahari Departement Store Mal WTC, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 20 Oktober 2020. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Manajemen PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menanggapi rencana penerbitan saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) yang tergabung dalam Grup Lippo.

Chief Executive Officer Matahari Department Store, Terry O’Connor mengatakan pihaknya masih memiliki pandangan positif terhadap Bank Nobu. Menurutnya, emiten perbankan milik Mochtar Riady tersebut menunjukkan momentum yang sangat positif hingga saat ini.

Oleh sebab itu, kata dia, manajemen akan lebih fokus ada kebutuhan modal Matahari dan akan mengambil sebanyak mungkin peluang di tengah kondisi pandemi saat ini. Sehingga, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kinerja perseroan.

“Tentunya kita harus fokus pada omni channel dan kita harus beriventasi pada teknologi yang tepat dan kita harus menempatkan diri, bagaimana kami bisa mengembalikan kepada pemegang saham kami atas nilai yang paling baik bagi mereka,” ujarnya dalam paparan publik, Jumat, 10 September 2021.

LPPF sendiri tercatat sebagai salah satu pemegang saham utama dan pengendali Bank Nobu. Perusahaan ritel satu ini mengempit sebanyak 728 juta lembar saham NOBU atau dengan porsi kepemilikan saham sebesar 16,4%. 

Chief Financial Officer Matahari Department Store, Niraj Jain turut menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki rencana untuk menjual kepemilikan saham LPPF di NOBU kepada investor strategis menjelang gelaran rights issue.

“Saat ini memang kami tidak memiliki intensi atau keinginan untuk mengubah investasi kami di Bank Nobu. Perhatian kami adalah untuk tetap berpegang pada investasi tersebut,” tambahnya.

Seperti diketahui, Bank Nobu berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 500 juta saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham atau setara dengan 10,13% dari modal ditempatkan. Namun, perseroan belum menyampaikan harga pelaksanaan right issue itu.

PT Kharisma Buana Nusantara selaku pemegang saham utama menyatakan tidak akan melaksanakan HMETD yang dimilikinya. Perusahaan merupakan pemegang saham NOBU dengan porsi terbesar, yakni sebanyak 22,53%.

Sedangkan PT Grahaputra Mandirikharisma (GPMK) bertindak sebagai pembeli siaga dalam rencana penerbitan saham baru dengan HMETD tersebut akan melaksanakan kewajiban penyetorannya dalam bentuk lain selain uang (inbreng) dan penyetoran tunai.

Berita Terkait