Terdorong Optimisme Global, IHSG Melesat 3,53%

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sangat optimistis naik 170,12 poin atau 3,53% ke level 4.986,46 pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa, 16 Juni 2020. IHSG optimistis mengikuti bursa global dengan optimisasi investor terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS).

Head of Research Equity Technical Analyst PT Reliance Securities Lanjar Nafi menyampaikan, penguatan IHSG juga sejalan dengan nilai tukar rupiah yang menguat 0,18% ke level Rp14.090 per dolar AS. “Namun investor asing terlihat lesu dengan tercatat net sell Rp602,39 miliar,” tulis Lanjar dalam risetnya.

Lanjar mencatat, saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi top net sell value, dengan investor domesik mendominasi sejak awal sesi perdagangan.

“Investor mulai mengesampingkan katalis dari penyebaran virus dan lebih fokus pada katalis potensi pertumbuhan ekonomi pascakrisis kesehatan,” ungkap Lanjar.

Selain IHSG, Bursa Asia juga menutup perdagangan di zona hijau dengan indeks Nikkei Jepang naik 4.88%, dan TOPIX Jepang naik lebih dari 4%, diiringi indeks Hangseng Hong Kong naik 2.39%, dan CSI 300 Shenzen China naik 1.51%.

Menutur Lanjar, indeks saham naik secara global bersama indeks berjangka ekuitas AS setelah berita tentang rencana stimulus moneter dan fiskal melawan sentimen investor dalam menghadapi kekhawatiran atas gelombang kedua penyebaran COVID-19.

Lanjar juga menyinggung adanya sentimen positif dari rencana Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan dana US$1 triliun dalam pengeluaran investruktur setelah Federal Reserve alias The Fed merinci rencana untuk membeli obligasi korporasi.

Pernyataan serupa juga disampaikan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee saat dihubungi Trenasia.com. Hans juga menyebut faktor pendorong IHSG berasal dari rencana the Fed yang akan membeli obligasi korporasi.

“Artinya the Fed membantu masalah keuangan perusahaan-perusahaan swasta dengan membeli surat berharganya. Ini positif, menjadi stimulus,” ungkap Hans.

Hal itu, kata Hans, mendorong dunia optimistis bahwa stimulus itu baik bagi ekonomi. Meski begitu, Hans berpendapat, sentimen ini bersifat jangka pendek. “Sehingga indeks akan kembali ke nature-nya, memperhatikan kembali dampak dari gelombang dua COVID-19,” jelas Hans.

Hans juga bahkan belum melihat adanya sentimen positif yang signifikan dari dalam negeri. Sehingga, faktor paling berpengaruh menjadi penggerak indeks dunia adalah the Fed.

Sebagai tambahan informasi, sepanjang hari ini IHSG bergerak pada kisaran level 4.821,47 sampai 4.989,53. Level tersebut terbentuk melalui transaksi bernilai Rp8,52 triliun dengan frekuensi 692.199 kali. (SKO)

Tags:
Bursa Efek Indonesiaekonomi globalfederal reserveihsgindeks harga saham gabunganPasar modalpasar sahamthe fed
Issa Almawadi

Issa Almawadi

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: