Terdongkrak Tax Amnesty, Penerimaan Pajak per April 2022 Capai 44,9 Persen dari Target

25 Mei 2022 19:08 WIB

Penulis: Muhammad Heriyanto

Editor: Laila Ramdhini

Wajib pajak mencari informasi mengenai Program Pengungkapan Sukarela (PPS) di salah satu kantor pelayanan pajak pratama di Jakarta, Jum'at, 11 Maret 2022. ( Ismail Pohan/TrenAsia)

JAKARTA - Realisasi penerimaan pajak hingga 30 April 2022 mencapai Rp567,7 triliun atau 44,9% dari total target yang dipatok di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2022. 

Penerimaan pajak ini tumbuh sebesar 51,5% secara year on year (yoy) atau dibandingkan dengan periode Januari- April tahun lalu yang sebesar Rp374,7 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merinci, penerimaan itu berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) Non Migas sebesar Rp342,5 triliun, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp192,1 triliun, PPh Migas sebesar Rp30,7 triliun, serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak lainnya sebesar Rp2,4 triliun.

“Pajak kita masih tumbuh sangat kuat sampai dengan akhir April karena memang bulan April adalah penyerahan SPT untuk pajak badan atau korporasi. Kita berharap ini masih bertahan,” kata dia dalam keterangan resmi dikutip Rabu, 25 Mei 2022.

Sri Mulyani mengatakan PPh Badan melonjak sebesar 105,3% (yoy) dan berkontribusi sebesar 29,3% dari total penerimaan pajak. Dengan angka itu, PPh Badan menjadi kontributor terbesar penerimaan pajak pada April 2022.

“Kenaikan capaian PPh Badan Tahunan sejalan dengan jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) PPh Badan,  kalau PPh badan tumbuh, ini berarti penerimaan pajak kita juga cukup baik,” kata Sri Mulyani.

Kemudian, Pajak Pertambahan Nilai Dalam Negeri (PPN DN) tumbuh sebesar 36,6% (yoy) dan berkontribusi sebesar 18,7%. Diikuti oleh PPN Impor yang tumbuh sebesar 40,2% (yoy) dan berkontribusi sebesar 13,8%. Selanjutnya, PPh 21 tumbuh sebesar 26,3% (yoy) dan berkontibusi sebesar 10,3%.

“Ini karena ada pergeseran untuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) di bulan April dan tentu ini juga menggambarkan kenaikan jumlah pekerja yang sekarang mendapatkan pekerjaan,” tambah Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut pertumbuhan penerimaan neto seluruh jenis pajak juga dominan positif. Kinerja penerimaan yang meningkat sebagai akibat low-based effect, peningkatan kinerja korporasi, peningkatan aktivitas impor, dan dampak dari Program Pengungkapan Sukarela (PPS).

Berita Terkait