Terdongkrak Peningkatan Volume Penjualan, Laba Bersih BUMN Krakatau Steel (KRAS) Melesat 619 Persen Jadi Rp1,2 Triliun pada Semester I-2021

21 Juli 2021 10:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Gedung Krakatau Steel di kawasan Gatot Subroto Kuningan. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) membukukan kinerja keuangan yang impresif selama paruh pertama tahun ini. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih hingga enam kali lipat lebih, tepatnya 619% year on year (yoy).

Laba KRAS melesat dari Rp67 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp475 miliar pada semester I-2021. Capaian itu praktis turut mendongkrak earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) perseroan yang melesat 200% yoy dari Rp687 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp1,2 triliun pada semester I-2021.

Kinerja keuangan yang impresif itu rupanya terdorong oleh pertumbuhan volume penjualan produk baja hingga 43,8% yoy. KRAS mencatatkan volume penjualan hot rolled coil (HRC) dan Cold Rolled Coil (CRC) menjadi 995.000 ton atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 692.000 ton.

Sorotan kebangkitan emiten pelat merah ini ada pada volume penjualan ekspor yang melesat hingga 1500% atau setara 15 kali lipat. Volume penjualan ekspor KRAS melejit dari 10.817 ton pada semester I-2020 menjadi 162.243 ton pada semester I-2021.

Atas capaian ini, KRAS membukukan kenaikan pendapatan 90,9% dari Rp8 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp15 triliun pada semester I-2021.

“Perseroan mengalami penurunan pada biaya produksi serta peningkatan volume penjualan, maka produktivitas Krakatau Steel pun meningkat 61 persen,” kata Direktur Utama (Dirut) Krakatau Steel Silmy Karim dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu, 21 Juli 2021.

Anak uisaha buat sub-holding

Silmy menyebut efisiensi perseroan juga terdorong oleh strategi anyar mengalihkan kepemilikan saham kepada anak usahanya. Dengan begitu, anak usaha yang membangun sub holding ini bisa memberikan implikasi positif terhadap keuangan konsolidasi KRAS.

Seperti diketahui, KRAS mengalihkan sejumlah kepemilikan saham kepada anak usahanya,  PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) Kini, KIEC menjadi induk dari sub holding beranggotakan  PT Krakatau Daya Listrik (KDL), PT Krakatau Tirta Industri (KTI), dan PT Krakatau Bandar Samudera.

Sub holding Sarana Infrastruktur itu ditaksir mampu meraih pendapatan Rp7,8 triliun pada 2025. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut proyeksi pendapatan itu sejalan dengan derasnya arus investasi di bidang kawasan industri, penyediaan energi, penyediaan air industri, dan pelabuhan.

“Pembentukan SSI sebagai bagian transformasi Krakatau Steel meningkatkan nilai, dan mengoptimalkan kinerja. SSI harus dapat memanfaatkan peluang dari derasnya arus masuk investasi ke Indonesia yang memerlukan dukungan kawasan industri dengan fasilitas terintegrasi, dan berstandar internasional,” kata Erick dalam kunjungan kerja ke kantor Krakatau Steel, Selasa, 13 Juli 2021.

Menilik kembali laporan keuangan empat perusahaan pada 2020, anggota sub holding secara keseluruhan memiliki total pendapatan Rp3,4 triliun. Lalu, earning before interest taxes depreciation and amortization (EBITDA) berada di posisi Rp1 triliun. Angka ini diproyeksikan meningkat karena strategi integrasi melalui sub holding tersebut.

 

Berita Terkait