Telkomsigma Jadi Pencetus Bisnis Data Center di Indonesia, Siapa Saja Pemain Lainnya?

23 September 2021 16:04 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Pedagang mengoperasikan gawai di salah kios pasar tradisional kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa, 7 September 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Perkembangan dunia digital memaksa perusahaan untuk terus beradaptasi. Di Indonesia, ekonomi digital dapat dilihat seiring dengan permintaan bisnis data center.

Berdasarkan hasil riset dari Savills Indonesia, permintaan data center ini didorong oleh kebijakan dan Peraturan Pemerintah (PP) 71/2019 yang menyatakan bahwa semua perusahaan, khususnya lembaga keuangan, wajib menyimpan data pribadi di pusat data yang berada di dalam negeri.

Bank sentral melalui Peraturan Bank Indonesia (BI) Nomor 9/15/PBI/2007 juga menyatakan, semua bank dan lembaga keuangan harus memiliki mekanisme cadangan melalui Disaster Recovery Center (DRC).

“Hal ini berguna untuk memulihkan data dan melanjutkan operasi jika terjadi keadaan darurat,” mengutip riset tersebut, Kamis, 23 September 2021. Dengan adanya peraturan ini, pertumbuhan pusat bisnis untuk data lokal dinilai semakin tumbuh.

Telkomsigma Jadi Pemain Pertama

Adapun salah satu pemain paling awal di sektor ini adalah Telkom. Melalui anak usahanya,  PT Sigma Cipta Caraka atau Telkomsigma, ia membuka pusat data pertama pada 1997. Perusahaan ini membangun fasilitas Tier III dan menjadi pertama di ASEAN yang menerima sertifikasi Operasi Tier III.

Diketahui, saat ini Telkomsigma mengendalikan tata Kelola untuk 18 internet data center TelkomGroup atau neuCentriX.  Selain itu, pada tahun ini sudah ada lebih dari 300 pelanggan yang berasal dari berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, startup, dan finansial.

Selain pertumbuhan ekonomi digital, permintaan pusat data center ini juga didorong oleh regulasi yang dianggap sudah lebih baik.

Sementara itu, proyek pusat data center sendiri sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek. Namun, ke depan permintaan yang meningkat ini juga mendorong kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Bandung dan Bali untuk ikut membangun pusat data center.

Adapun kapasitas daya diperkirakan sebesar 130 Mega Watt (MW) untuk kawasan 120.000 m2. Sebagian besar operator menawarkan pilihan hosting terkelola dan model layanan cloud.

Perusahaan Properti Rambah Bisnis Data Center

Saat ini, pemain pusat data center utama di Indonesia masih didominasi pemain lokal. Di sektor properti, tercatat pengembang kawasan berbasis industri Kota Deltamas, PT Puradelta LestariTbk (DMAS) mendapat permintaan lahan industri yang cukup luas, yakni sebesar 70 hektare (Ha).

Perseroan melaporkan, setengah dari permintaan lahan industri tersebut berasal dari sektor industri data center. Saat ini, DMAS tengah membangun fasilitas data center secara khusus. Hal ini diawali oleh perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atas pemasangan listrik sebesar 993 MV. 

Pasokan listrik ini untuk ditujukan mensupplay kebutuhan di sektor tersebut. Pasalnya, bagi pemain data center, listrik dinilai merupakan hal yang vital. 

DMAS juga tengah mengembangkan sebuah zona industribernama Greenland International Industrian Center (GIIC) Kota Deltamas. Kawasan ini dilengkapi dengan fasilitasdan  infrastruktur khusus, untuk mengantisipasi permintaan lahan dari industri yang membutuhkan teknologi terkini.

Dalam kawasan tersebut, terdapat kurang lebih 150 tenant dari berbagai sektor industri, seperti Kalbe, Astra Honda Motor, Mitsubishi Motors, Hyundai Motors, dan Suzuki.

Selain DMAS, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga berencana melakukan ekspansi ke bisnis data center. 

Namun, hal ini masih dalam proses kajian dan review. Perusahaan yang masuk dalam Sinar Mas Land ini akan menggarap ekosistem digital, salah satunya di area BSD City.

Proyek tersebut diharapkan bisa menjadi arena kawasan Digital Hub, dengan fasilitas dan infrastruktur meliputi koneksi kabel optik, urban forest, dan konektivitas antarbangunan.

Kawasan yang terhubung dengan Green Office Park ini dikembangkan untuk mengakomodasi tenant digital industri 4.0. Adapun targetnya adalah para pelaku startup maupun perusahaan teknologi multinasional, dan ventura.

Hingga saat ini, di BSD Green Office Park Colony sudah ditempati oleh perusahaan-perusahaan terkemuka, seperti Unilever, Traveloka, Go Work, dan lain-lain. Selain itu, ada sejumlah bank seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank Sinarmas, dan CIMB Niaga. Adapun perusahaan edukasi multinasional, seperti Apple Academy, AWS Academy, Monash University, dan MyRepublic.

Terbaru, emiten properti PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) juga merambah ke bisnis data center. Peluang dalam rangka menyambut boomingnya bisnis digital ini dilakukan dengan mengkonversi aset gedung perkantoran yang dimiliki REAL di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan JLL bertajuk Data Centre in Indonesia Unveiling The Potential to Become The Next Digital Hub, disebutkan bahwa sektor ini akan terus tumbuh dan berkembang pesat. Ini terjadi atas dorongan dari pertumbuhan generasi muda, kelas menengah baru, serta kebangkitan ekonomi digital.

Structure Research juga memproyeksi pertumbuhan data center di Indonesia pada periode 2020-2025 akan mencapai 23,5% per tahun. Pada 2025, market sizenya diperkirakan mencapai US$618,6 juta atau setara Rp8,9 triliun (Kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat).

Berita Terkait