Tarif Tes PCR Turun, Okupansi Penumpang di Bandara Syamsudin Noor Mulai Membaik

27 Agustus 2021 12:55 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Amirudin Zuhri

BANJARMASIN- Keputusan pemerintah menurunkan tarif pemeriksaan COVID-19 dengan cara reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) dan swab antigen berpengaruh pada tingkat okpupansi penumpang di Bandara Syamsudin Noor yang mulai membaik.

Tarif baru ini PCR sebesar Rp 495.000 untuk pulau Jawa dan Bali, serta Rp 525.000 untuk luar pulau Jawa dan Bali. Hasil tes negatif PCR ini digunakan sebagai syarat berpergian.

Hal ini diungkapkan Amiruddin Florensius, General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor saat berbincang, Jum'at 27 Agustus 2021.

Amiruddin menjelaskan tingkat harian okupansi bandara Internasional Syamsudin Noor meningkat sekitar 14% dibandingkan sebelum kebijakan penurunan tarif PCR.

"Ada peningkatan, sebelumnya penumpang harian sekitar 4.000 orang, setelah kebijakan (penurunan tarif PCR) penumpang lebih dari 5.000 orang," jelas Amiruddin.

Dia mengakui kebijakan penurunan tarif bisa sedikit membuat industri penerbangan bisa bernafas lega. kendati demikian, dia mengakui okupansi penumpang dari dan ke Kalsel belum pulih seperti sebelum Pandemi Covid-19.

Amiruddin menyarankan pemerintah untuk tidak menerapkan syarat PCR bagi penumpang yang berangkat dari ke Banjarmasin, sebagai upaya memulihkan antusiasme masyarakat untuk berpergian.

Sebagai contoh syarat yang digunakan di Bandara di Pulau Jawa dan Bali cukup dengan hasil negatif Swab Antigen dan sertifikat vaksin, tanpa menggunakan hasil tes PCR.

"Di (bandara) Jawa dan Bali sudah bisa swab Antigen (syarat berpergian), harapannya bandara di luar jawa-bali bisa Antigen, sehingga perekonomian bisa mulai bergerak lagi," ujar dia.

Kendati demikian, Amiruddin menyebut pengelola Bandara Internasional Syamsuddin Noor tetap mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran Covid-19, walaupun berpengaruh terhadap penerbangan.

Kapasitas Bandara Internasional Syamsudin Noor yang baru,awalnya dirancang untuk bisa menampung hingga tujuh juta penumpang per tahun. 

Dia mengakui belum bisa mengestimasikan kapan waktu industri penerbangan bisa pulih. Bukan tanpa alasan, kebijakan pemerintah untuk memperpanjang PPKM masih memukul industri penerbangan.

"Bandara yang lama saja penumpang harian bisa sampai 20.000 orang perhari, apalagi pada momen tertentu seperti musim haji dan umroh, serta haul guru Sekumpul jumlah penumpang yang datang bisa sampai 30.000 orang perhari," tutup Amiruddin.

Tulisan ini telah tayang di starbanjar.com oleh Redaksi Starbanjar pada 27 Aug 2021 

Berita Terkait