Tarif PCR Resmi Turun, Simak Rekomendasi Saham Rumah Sakit Ini

20 Agustus 2021 12:00 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Rizky C. Septania

Nilai Transaksi Rp1,25 Triliun, SAME Siap Ambil Alih Seluruh Saham EMC.

JAKARTA –  Presiden Joko Widodo resmi menurunkan tarif tertinggi pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menjadi maksimal 45%.

Kebijakan ini berlaku setelah dilakukan evaluasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Hasilnya, batas tarif tertinggi pemeriksaan RT-PCR saat ini sebesar Rp495.000 untuk Pulau Jawa dan Bali, serta sebesar Rp525.000 untuk luar Pulau Jawa dan Bali.

Terkait hal ini, founder Galeri Saham Rio Rizaldi menyebut, tes PCR sendiri merupakan salah satu pendorong dari pendapatan rumah sakit.

“Laba emiten rumah sakit rata-rata mengalami peningkatan pada kuartal empat 2020 hingga kuartal pertama 2021,” ujarnya dalam live akun Instagram @omfinchannel, Jumat, 20 Agustus 2021.

Menurutnya, ini menjadi titik balik dari kinerja rumah sakit. Selain itu, faktor lain juga berhubungan dengan strategi perusahaan, seperti banyaknya rumah sakit yang menghadirkan omnichannel

PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), misalnya, pada semester I-2021 mencatatkan pendapatan sebesar Rp438,12 miliar. Jumlah ini meroket 103,14% dari catatan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp215,67 miliar.

Kemudian, pengelola rumah sakit Mitra Keluarga, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) juga kembali membukukan kinerja positif. 

Sepanjang semester I-2021, laba bersih yang diraup perseroan melejit 124% year-on-year (yoy) menjadi Rp711,9 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, laba yang tercatat sebesar Rp317,6 miliar.

Pendapatan perseroan juga naik hingga 64,2% yoy. Jumlah pendapatan per semester I-2020 sebesar Rp1,4 triliun, menjadi Rp2,3 triliun pada periode ini.

Selanjutnya, rumah sakit grup Mayapada, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), berhasil mencatatkan laba bersih atau laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp68,14 miliar pada kuartal I-2021. Catatan ini lebih baik dari kuartal I-2020 yang rugi Rp9,42 miliar.

Pendapatan yang dibukukan meroket 77,39% yoy menjadi Rp500,45 miliar pada kuartal I-2021. 

Dampak ke bisnis laboratorium

Adapun penurunan tarif PCR dipandang Rio bakal memengaruhi emiten yang fokus dengan bisnis laboratorium, misalnya PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA).

“Bisa diasumsikan laba mereka akan terdampak,” tambahnya.

Ia pun merekomendasikan, rumah sakit dengan pelayanan spesial akan memiliki prospek yang lebih bagus dibandingkan dengan rumah sakit konvensional.

Emiten PT Bundamedik Tbk  (BMHS), misalnya. Pelayanan yang berfokus pada kesehatan ibu dan bayi atau kandungan ini secara umum akan terus dibutuhkan oleh masyarakat.

Selain itu, Rio juga menyebut emiten PT Sarana Meditama Metropolitan (SAME). Seperti diketahui, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) atau Emtek belum lama ini menambah kepemilikan sahamnya di SAME senilai Rp78,66 miliar. ke depan, rumah sakit ini akan meningkatkan layanan untuk kecantikan.

Beauty clinic ramai dan banyak dikunjungi,” kata Rio.

Namun, Rio memandang saham rumah sakit lebih cocok untuk jangka menengah karena prospeknya berhubungan dengan momentum. Ia pun mengimbau agar investor wait and see dibandingkan langsung membeli saham-saham rumah sakit.

Sementara itu, untuk perdagangan hari ini, Rio memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak pada level support resistance 5.950-6.100.

 

 

Berita Terkait