Tanda-Tanda Ekonomi Membaik, Investasi Manufaktur Melesat Tembus Rp88,3 Triliun

29 April 2021 09:03 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Pekerja menyelesaikan pembuatan mukena di Pabrik Mukena Siti Khadijah, Cinere, Depok , Kamis 15 April 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatatkan pertumbuhan investasi industri pengolahan pada kuartal I-2021 hingga 38% year on year (yoy). Nilai investasi industri pengolahan tersebut naik dari Rp64 triliun pada kuartal I-2020 menjadi Rp88,3 triliun pada kuartal I-2021.

Kontribusi sektor manufaktur itu mencapai 40% dari keseluruhan nilai investasi di Indonesia yang sebesar Rp219,7 triliun. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai, ekspansi sektor manufaktur merupakan efek dari adanya Undang-Undang Cipta Kerja.

“Salah satu wujud nyata dukungan pemerintah adalah menerbitkan Undang-Undang Cipta Kerja yang tentunya dapat mempermudah izin usaha dan memberikan kepastian hukum bagi para pelaku industri di Tanah Air,” kata Agus dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu, 28 April 2021.

BKPM Merinci, nilai investasi sektor manufaktur pada kuartal I 2021 sebagian besar disumbangkan dari Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp65,3 triliun. Porsi investor asing terhadap investasi manufaktur pada kuartal I-2021 lebih banyak dibandingkan dengan kuartal I-2020 yang hanya Rp44,2 triliun.

Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbangkan Rp23 triliun terhadap nilai investasi sektor manufaktur. Realisasi ini meningkat dibandingkan dengan kuartal I-2020 yang sebesar Rp19,8 triliun.

Sektor Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya mampu menorehkan pertumbuhan dobel digit sebesar 12,7% yoy dengan penerimaan investasi sebesar Rp27,9 triliun.

“Kami sangat mengapresiasi para pelaku industri yang masih semangat untuk melakukan ekspansi di Tanah Air, meskipun di tengah pandemi COVID-19. Ini akan membawa multiplier effect bagi upaya pemulihan ekonomi nasional,” ucap Agus.

Industri Makanan dan Minuman
Gerai makanan dan minuman kopi kekinian Haus! / Haus.co.id

Lalu, ada sektor industri makanan dan minuman (mamin) yang tumbuh 9,9% yoy. Sektor Mamin mampu berkontribusi Rp21,7 triliun terhadap realisasi investasi di sektor manufaktur.

Industri Mamin memang dijagokan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bakal mencatatkan pertumbuhan yang stabil tahun ini. Menurut Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani, industri mamin bisa tumbuh setidaknya 7% pada kuartal II 2021.

Kemenperin menargetkan investasi di sektor manufaktur bisa mencapai Rp323,56 triliun pada tahun ini. Target tersebut naik 21,9% atau lebih banyak Rp58,28 triliun dibandingkan dengan target 2020 yang sebesar Rp265.28 triliun.

Agus optimistis, industri manufaktur bisa mencapai target investasinya di tahun ini. Hal ini, kata Agus, ditopang oleh geliat industri yang sudah mulai pulih sejak dihantam pandemi pada tahun lalu.

Pulihnya sektor industri manufaktur dapat dilihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang melesat tinggi ke posisi 53,2 pada Maret 2021. Angka ini meningkat dari posisi Februari 2021 yang sebesar 50,9.

Raihan PMI yang diterima Indonesia pada Maret 2021 merupakan tertinggi sejak 2011 silam. “Investasi akan menjadi faktor penggerak pertumbuhan sektor industri,” ungkap Agus. (SKO)

Berita Terkait