Tancap Gas! Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Tembus Rp144,93 Triliun Sepanjang Januari-Mei 2021

15 Juni 2021 21:04 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Aktivitas bongkar muat kapal muatan barang di dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu, 19 Mei 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Indonesia kembali meneruskan tren neraca perdagangan positif pada Mei 2021.

Neraca perdagangan RI Mei tumbuh menjadi US$2,36 miliar atau Rp33,63 triliun (asumsi kurs Rp14.251 per dolar Amerika Serikat).

Capaian itu lebih tinggi ketimbang periode yang sama di tahun sebelumnya (year on year/yoy) yang sebesar US$2,19 miliar atau sekitar Rp31,2 triliun.

Dengan demikian, surplus neraca perdagangan Indonesia telah menembus US$10,17 miliar atau Rp144,93 triliun pada Januari hingga Mei 2021. 

“Surplus neraca perdagangan pada periode Januari-Mei 2021 ini lebih besar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya surplus US$4,18 miliar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers, Selasa, 15 Juni 2021.

Suhariyanto mengatakan capaian surplus neraca perdagangan ini sangat impresif meski sentimen Ramadan dan Lebaran telah usai pada pertengahan Mei 2021.

“Capaian surplus neraca perdagangan bulan lalu merupakan tertinggi sejak 2021. Kita harap neraca perdagangan terus mencetak surplus dengan performa yang lebih baik lagi” kata Suhariyanto.

Secara rinci, nilai ekspor pada Mei 2021 tercatat sebesar US$16,6 miliar atau turun 10,25% dibandingkan bulan sebelumnya (month to month). Kendati demikian, nilai ekspor itu masih tumbuh 59,76% yoy.

Dibandingkan April 2021, jenis ekspor migas mau pun non migas kompak mengalami penurunan. Ekspor migas tergelincir 2,68% mtm sementara ekspor non migas menurun 10,67% mtm.

Penurunan ekspor migas ini terjadi di tengah melejitnya sejumlah harga komoditas. Menurut catatan BPS, harga minyak mentah naik 5,7%, batu bara melesat 16,07%, minyak kelapa sawit naik 7,9% dan tembaga naik 8,98%.

“Ini hal yang biasa karena setelah Ramadan dan Lebaran. Namun secara tahunan ada pertumbuhan tinggi, untuk ekspor migas sebesar 66,9% yoy dan non migas 58,4% yoy dibandingkan dengan tahun lalu ketika awal pandemi,” ucap Suhariyanto.

Pertanian masih mempertahankan status sebagai sektor yang paling tahan banting selama pandemi COVID-19. Ekspor sektor pertanian berhasil tumbuh hingga 30,06% mtm pada Mei 2021. Sementara penyumbang ekspor tertinggi, yakni sektor manufaktur mengalami terkorelasi 14,02% mtm menjadi US$12,83 miliar pada Mei 2021.

Sektor pertambangan stabil dengan tumbuh 14,29% mtm. Pertumbuhan batu bara pada Mei 2021 terdorong oleh kenaikan harga batu bara dan bijih besi.

Sementara nilai impor berhasil parkir di posisi US$14,23 miliar atau merosot 12,16% mtm. Secara tahunan, nilai impor tumbuh lebih agresif dibandingkan ekspor, yakni mencapai 66,68.

Lebih rinci, Suhariyanto menyebut impor non migas pada Mei 2021 terjungkal dengan turun 14,16% mtm namun masih tumbuh 56,44% yoy. Meski begitu, impor migas berhasil tumbuh tipis 1,91% mtm dan mencatatkan pertumbuhan tahunan hingga 213,61% pada bulan lalu.

Jika dibandingkan April 2021, semua jenis barang impor mengalami penurunan pada Mei 2021. Penurunan terjadi pada impor barang modal (14,09%), barang konsumsi (13,77%), dan bahan baku penolong (11,6%).

Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia pada Januari-Mei 2021 mencapai US$83,99 miliar, sementara impor berada di angka US$73,82 miliar. (RCS)

Berita Terkait